Jakarta – Perundingan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan di Islamabad dilaporkan belum mencapai kesepakatan. Meski demikian, pihak Iran menyatakan tetap optimistis terhadap kelanjutan proses diplomasi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa jalur diplomasi masih terbuka.
“Diplomasi tidak pernah berakhir. Aparat diplomatik adalah alat untuk melindungi kepentingan nasional,” ujarnya, seperti dikutip dari kantor berita IRNA.
Ia menambahkan, konsultasi antara Iran, Pakistan, serta negara-negara sahabat di kawasan akan terus dilanjutkan.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Amerika telah meraih keunggulan secara militer. Namun, pernyataan tersebut dinilai lebih sebagai tekanan politik di tengah rendahnya dukungan domestik terhadap perang.
Laporan Al Jazeera menyebut konflik ini tidak populer di dalam negeri AS, dengan tingkat persetujuan publik yang rendah, serta tekanan ekonomi akibat gejolak pasar saham dan kenaikan harga minyak.
Salah satu isu krusial dalam perundingan adalah kendali Iran atas Selat Hormuz yang memiliki peran vital dalam distribusi minyak global. Kebijakan Iran yang menerapkan akses selektif di jalur tersebut turut memengaruhi pasar energi dunia.
Amerika Serikat disebut menginginkan jaminan lebih luas dari Iran, tidak hanya terkait penghentian pengembangan senjata nuklir, tetapi juga pembatasan akses terhadap teknologi yang mendukung program tersebut. Isu ini dinilai kompleks dan membutuhkan waktu panjang untuk dinegosiasikan.
Sebagai perbandingan, kesepakatan nuklir yang dicapai pada era Barack Obama pada 2015 memerlukan proses negosiasi selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya dibatalkan oleh pemerintahan Trump.
Selain isu nuklir, perundingan kali ini juga mencakup berbagai aspek lain, seperti jaminan keamanan, pencabutan sanksi, pembekuan aset, hingga tuntutan Iran untuk gencatan senjata menyeluruh di kawasan.
Perbedaan kepentingan yang luas antara kedua pihak membuat negosiasi berjalan alot. Meski demikian, peluang dialog lanjutan masih terbuka, baik melalui pertemuan langsung maupun komunikasi jarak jauh.
Situasi ini menunjukkan bahwa penyelesaian konflik Iran–AS masih memerlukan waktu panjang, dengan dinamika yang terus berkembang di tengah tekanan geopolitik global.
