Jakarta, lajunetwork.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjadikan energi surya sebagai salah satu tumpuan utama dalam memperluas akses listrik, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil dan belum terjangkau jaringan PT PLN (Persero).
Direktur Pembinaan Ketenagalistrikan Strategis Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna, mengatakan Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar, mencapai sekitar 3.294 gigawatt. Potensi tersebut dinilai jauh lebih tinggi dibandingkan sumber energi terbarukan lainnya seperti angin, energi laut, bioenergi, tenaga air, maupun panas bumi.
“Potensi energi surya di Indonesia sangat besar, sekitar 3.294 gigawatt. Namun hingga saat ini pemanfaatannya masih relatif kecil,” kata Andriah dalam media briefing Indonesia Solar Summit 2026 yang digelar secara daring, Kamis, 9 Juli 2026.
Menurut Andriah, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang telah dimanfaatkan hingga 2026 baru mencapai sekitar 1,6 gigawatt. Sementara itu, energi terbarukan yang saat ini paling banyak dimanfaatkan masih berasal dari pembangkit listrik tenaga air dengan kapasitas sekitar 7,6 gigawatt.
Pemerintah, kata dia, melihat pengembangan PLTS sebagai solusi paling efektif untuk menghadirkan listrik di daerah-daerah yang sulit dijangkau jaringan transmisi PLN. Salah satu wilayah yang masih menjadi perhatian adalah Papua Selatan.
Ia menjelaskan, rasio elektrifikasi melalui jaringan PLN di Papua Selatan masih berada di kisaran 77,16 persen. Namun jika memperhitungkan sumber listrik di luar jaringan PLN, termasuk PLTS individual, rasio elektrifikasi wilayah tersebut meningkat hingga sekitar 99,79 persen.
“Kami terus mendorong peningkatan akses energi bagi masyarakat di wilayah terpencil. Energi surya menjadi pilihan yang paling memungkinkan karena potensinya besar dan dapat diterapkan di banyak lokasi,” ujarnya.
Untuk mendukung program tersebut, pemerintah mengembangkan sistem PLTS individual yang dilengkapi baterai penyimpanan energi. Teknologi ini memungkinkan listrik tetap tersedia pada malam hari setelah panel surya menghasilkan energi pada siang hari.
Selain membangun PLTS, pemerintah juga melanjutkan Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) bagi rumah tangga berpenghasilan rendah yang hingga kini belum menikmati layanan listrik.
Menurut Andriah, penggunaan PLTS dengan sistem penyimpanan energi juga menjadi jawaban atas tantangan penyediaan listrik selama 24 jam di daerah terpencil yang selama ini masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel.
Bagi kawasan yang tidak memungkinkan dibangun jaringan distribusi PLN, pemerintah akan mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya komunal sebagai alternatif penyediaan energi.
“Kami menargetkan secara bertahap seluruh wilayah yang belum berlistrik dapat terlayani dalam periode 2027 hingga 2029,” kata Andriah.
Data Kementerian ESDM menunjukkan, berdasarkan pendataan 2025 masih terdapat sekitar 10.068 lokasi di Indonesia yang belum menikmati akses listrik. Lokasi tersebut terdiri atas 5.758 desa dan 4.310 dusun yang tersebar dari Aceh hingga Papua.
Melalui Program Listrik Perdesaan yang masuk dalam Program Strategis Nasional, pemerintah menargetkan seluruh masyarakat Indonesia dapat memperoleh layanan listrik yang andal selama 24 jam pada 2029. Program itu menjadi bagian dari upaya pemerataan pembangunan sekaligus percepatan pemanfaatan energi bersih di berbagai wilayah Indonesia.
