Ankara, lajunetwork.id – Turkiye mencatat tonggak penting dalam industri pertahanan nasional setelah untuk pertama kalinya mengekspor kapal perang ke negara yang merupakan anggota NATO dan Uni Eropa. Pencapaian tersebut diumumkan Presiden Turkiye, Recep Tayyip Erdogan, saat menghadiri upacara serah terima kapal di Istanbul, Sabtu.
Menurut Erdogan, keberhasilan tersebut menjadi bukti kemajuan pesat industri galangan kapal dan pertahanan Turkiye yang dalam beberapa tahun terakhir terus menunjukkan pertumbuhan signifikan, baik dari sisi produksi maupun ekspor.
“Industri pembuatan kapal angkatan laut kami sedang mengalami salah satu periode paling produktif dalam sejarah Republik Turkiye,” ujar Erdogan dalam sambutannya.
Ia menjelaskan bahwa Turkiye saat ini termasuk dalam kelompok negara yang mampu membangun berbagai jenis kapal perang secara bersamaan dalam jumlah besar. Kemampuan tersebut dinilai memperkuat posisi negara itu sebagai salah satu pemain penting dalam industri pertahanan global.
Keberhasilan ekspor bersejarah tersebut terwujud melalui kontrak kerja sama dengan Romania. Berdasarkan kesepakatan itu, Turkiye membangun kapal patroli Cam Roman yang diproduksi di Galangan Kapal Istanbul sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak Romania.
“Melalui kontrak dengan Romania, Turkiye untuk pertama kalinya berhasil mengekspor kapal perang kepada negara anggota NATO dan Uni Eropa,” kata Erdogan.
Pemerintah Turkiye menilai kerja sama tersebut bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga menunjukkan tingkat kepercayaan internasional terhadap kemampuan teknologi pertahanan yang dikembangkan industri dalam negeri.
Selain kontrak dengan Romania, Erdogan mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir Turkiye telah membangun lebih dari 140 wahana angkatan laut untuk berbagai negara mitra di berbagai kawasan dunia. Produk yang diekspor mencakup kapal patroli, kapal pendukung militer, hingga berbagai platform maritim lainnya.
Kemajuan sektor pertahanan juga tercermin dari peningkatan nilai ekspor industri pertahanan dan kedirgantaraan negara tersebut. Erdogan menyebut pada bulan lalu saja nilai ekspor sektor tersebut mencapai sekitar 996 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp17,75 triliun.
Capaian itu menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan dua dekade lalu. Menurut Erdogan, sekitar 23 tahun yang lalu total ekspor tahunan industri pertahanan Turkiye hanya mencapai 248 juta dolar AS atau sekitar Rp4,42 triliun.
“Dulu angka 248 juta dolar merupakan total ekspor dalam satu tahun. Kini nilai tersebut dapat dicapai hanya dalam waktu satu pekan,” ujarnya.
Pertumbuhan industri pertahanan Turkiye dalam beberapa tahun terakhir didorong oleh investasi besar pada riset, pengembangan teknologi militer, serta peningkatan kapasitas produksi dalam negeri. Pemerintah juga terus mendorong pengurangan ketergantungan terhadap impor alat utama sistem persenjataan dengan memperkuat industri nasional.
Meski terus memperluas pasar ekspor pertahanan, Erdogan menegaskan bahwa Turkiye memandang kerja sama teknologi dan industri pertahanan dengan negara-negara sahabat sebagai bagian dari upaya memperkuat stabilitas dan keamanan bersama.
Ia menekankan bahwa ekspor produk pertahanan bukan semata-mata berorientasi pada keuntungan ekonomi, melainkan juga sebagai kontribusi Turkiye dalam membangun hubungan strategis dan memperkuat perdamaian di berbagai kawasan.
“Turkiye akan terus berkomitmen mendukung perdamaian, stabilitas, dan keamanan regional melalui kerja sama yang saling menguntungkan dengan negara-negara mitra,” katanya.
Keberhasilan ekspor kapal perang ke Romania dinilai menjadi pencapaian penting yang semakin mengukuhkan posisi Turkiye sebagai salah satu produsen peralatan pertahanan yang berkembang pesat di dunia. Langkah tersebut sekaligus membuka peluang baru bagi industri galangan kapal nasional untuk menembus pasar pertahanan yang lebih luas, termasuk di kawasan Eropa.
