Jakarta, lajunetwork.id – Harga minyak dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu waktu internasional atau Kamis WIB setelah pasar menilai risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah mulai mereda. Penurunan terjadi seiring tetap lancarnya aktivitas pelayaran kapal tanker di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak global.
Berdasarkan data perdagangan terbaru, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) ditutup turun sekitar 4 persen ke level 70,34 dolar Amerika Serikat per barel. Bahkan selama sesi perdagangan, harga sempat menyentuh posisi terendah harian di 69,63 dolar AS per barel.
Penurunan tersebut menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya sejak awal Maret 2026 harga WTI kembali bergerak di bawah level psikologis 70 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga minyak dunia juga mengalami koreksi signifikan. Harga Brent ditutup melemah 4,3 persen ke posisi 73,74 dolar AS per barel, sekaligus menjadi level terendah sejak sebelum pecahnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari lalu.
Meredanya harga minyak dipicu oleh meningkatnya keyakinan pasar bahwa arus distribusi energi global tidak akan terganggu secara signifikan. Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah kondisi Selat Hormuz yang hingga kini masih beroperasi secara normal.
Selat Hormuz memiliki peran sangat strategis karena menjadi jalur pengiriman sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Setiap potensi gangguan di kawasan tersebut biasanya langsung memicu lonjakan harga energi global akibat kekhawatiran terhadap terganggunya rantai pasok.
Namun, berlanjutnya aktivitas kapal tanker di jalur tersebut membuat pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya melekat pada harga minyak.
Kondisi tersebut turut diperkuat oleh perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang berhasil mencapai kesepakatan perdamaian beberapa waktu lalu, sehingga risiko gangguan pasokan dalam jangka pendek dinilai semakin menurun.
Di tengah turunnya harga minyak mentah dunia, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru menyoroti harga bahan bakar yang masih relatif tinggi di tingkat konsumen.
Melalui unggahan di platform media sosial Truth Social, Trump mempertanyakan lambatnya penyesuaian harga BBM oleh perusahaan-perusahaan energi meskipun harga minyak mentah mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir.
Menurut Trump, masyarakat seharusnya sudah merasakan dampak dari turunnya harga minyak dunia melalui harga bahan bakar yang lebih murah di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Ia bahkan menilai konsumen berpotensi dirugikan apabila perusahaan energi tidak segera menyesuaikan harga jual mereka sesuai perkembangan pasar.
Dalam pernyataannya, Trump juga meminta aparat penegak hukum untuk menelusuri kemungkinan adanya praktik yang menyebabkan harga BBM tidak turun secepat penurunan harga minyak mentah.
Meski demikian, sejumlah analis menilai hubungan antara harga minyak mentah dan harga bahan bakar eceran tidak berlangsung secara instan.
Peneliti senior dari bidang kebijakan energi menjelaskan bahwa harga bahan bakar di tingkat konsumen dipengaruhi banyak faktor selain harga minyak mentah itu sendiri.
Komponen seperti biaya pengolahan di kilang, distribusi, margin pemasaran, hingga pajak negara bagian dan pajak lokal turut menentukan harga yang dibayar masyarakat di SPBU.
Selain itu, terdapat jeda waktu antara penurunan harga minyak mentah dan penyesuaian harga bahan bakar di pasar ritel. Proses tersebut biasanya memerlukan waktu beberapa minggu karena minyak mentah harus terlebih dahulu diproses di kilang sebelum hasilnya didistribusikan ke jaringan penjualan bahan bakar.
Dengan demikian, penurunan harga minyak dunia yang terjadi saat ini belum tentu langsung terlihat pada harga bensin yang dibeli konsumen dalam waktu singkat.
Pelemahan harga minyak menunjukkan bahwa pasar mulai lebih optimistis terhadap stabilitas pasokan energi global. Berkurangnya kekhawatiran terhadap konflik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang mendorong koreksi harga dalam beberapa hari terakhir.
Jika lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz terus berjalan lancar dan situasi geopolitik tetap terkendali, harga minyak berpotensi bergerak lebih stabil dalam jangka pendek.
Namun demikian, pelaku pasar masih akan terus mencermati perkembangan keamanan di kawasan Timur Tengah. Sebagai salah satu pusat produksi minyak terbesar di dunia, setiap perubahan situasi politik maupun militer di wilayah tersebut tetap memiliki potensi memengaruhi keseimbangan pasokan dan harga energi global.
Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, stabilitas pasokan dari Timur Tengah akan menjadi faktor penting yang menentukan arah pergerakan harga minyak pada paruh kedua tahun 2026.
