Jakarta, lajunetwork.id – Pemerintah Republik Demokratik Kongo (DRC) memperingatkan potensi lonjakan korban akibat wabah Ebola apabila virus tersebut menyebar ke kawasan-kawasan pengungsian di Provinsi Ituri. Otoritas setempat memperkirakan jumlah kematian dapat meningkat drastis jika penularan tidak segera dikendalikan.
Peringatan itu disampaikan Menteri Urusan Sosial, Kemanusiaan, dan Solidaritas Nasional DRC, Eve Bazaiba Masudi, pada Sabtu (4/7). Menurut dia, kondisi di kamp-kamp pengungsian yang padat penduduk berpotensi mempercepat penyebaran virus.
Provinsi Ituri saat ini menjadi episentrum wabah Ebola. Wilayah tersebut menampung sekitar 1,15 juta pengungsi yang tersebar di 69 lokasi penampungan setelah kehilangan tempat tinggal akibat konflik dan krisis kemanusiaan.
“Jika kasus Ebola muncul di situs-situs ini, terdapat risiko jumlah infeksi dapat meningkat setidaknya seribu orang per hari,” kata Masudi, seperti dikutip portal berita Actualite.
Data otoritas kesehatan setempat menunjukkan situasi wabah masih memprihatinkan. Hingga Kamis pekan lalu, tercatat 26 orang meninggal dalam kurun satu hari, sementara 213 pasien dinyatakan sembuh setelah menjalani perawatan.
Di sisi lain, ratusan penderita masih dirawat di fasilitas kesehatan. Pemerintah juga melaporkan munculnya 42 kasus baru yang tersebar di Provinsi Ituri dan Kivu Utara, menandakan penularan virus masih berlangsung.
Meluasnya wabah mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan status Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) atau darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional sejak Mei lalu. Status tersebut diberikan karena tingginya risiko penyebaran Ebola ke wilayah lain di kawasan Afrika dan potensi dampaknya terhadap kesehatan global.
Pemerintah DRC bersama lembaga kesehatan internasional kini terus memperkuat upaya pengawasan, penanganan pasien, dan pencegahan penularan, terutama di kawasan pengungsian yang dinilai memiliki tingkat kerentanan paling tinggi terhadap penyebaran wabah.
