LajuNetwork.id – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat perlu diiringi dengan pemerataan konektivitas, peningkatan literasi digital, serta penguatan kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi secara aman dan produktif. Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama Cindy Monica Salsabila Setiawan, S.M., Anggota Komisi I DPR RI, dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara bertajuk “Mewujudkan Generasi Digital yang Aman dan Berdaya”, Kamis (1/10/2026).
Dalam pemaparannya, Cindy Monica menegaskan bahwa internet telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Internet dimanfaatkan untuk belajar, bekerja, berkomunikasi, berkarya, hingga membuka berbagai peluang baru. Karena itu, pemerataan akses internet perlu terus didorong agar wilayah-wilayah yang belum terjangkau konektivitas dapat segera memperoleh manfaat dari perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, pemerataan digital tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga harus memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk memanfaatkan konektivitas tersebut secara aman dan berdaya. Aman di ruang digital berarti memiliki kesadaran untuk melindungi diri dari berbagai risiko, sementara berdaya berarti mampu memanfaatkan teknologi untuk menambah pengetahuan, meningkatkan keterampilan, mengembangkan kreativitas, serta menciptakan berbagai peluang.
“Kemajuan digital bagi bangsa Indonesia tidak hanya diukur dari seberapa luas jaringan yang berhasil dibangun, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dari adanya jaringan tersebut,” menjadi salah satu substansi penting dalam pemaparan Cindy Monica. Melalui Sosialisasi Merajut Nusantara, masyarakat diharapkan semakin mampu memanfaatkan teknologi secara positif sekaligus memiliki daya saing di ruang digital.
Sementara itu, Alfreno Kautsar Ramadhan, Staf Khusus Bidang Kepemudaan dan Startup, membahas pentingnya membangun generasi digital yang aman di tengah pesatnya perkembangan ekosistem digital dan penggunaan Artificial Intelligence (AI). Ia menekankan bahwa internet memberikan manfaat besar, namun juga memiliki potensi risiko apabila digunakan tanpa kehati-hatian dan etika.
Alfreno menjelaskan bahwa literasi digital mencakup empat pilar utama, yaitu cakap digital, budaya digital, aman digital, dan etika digital. Masyarakat tidak hanya perlu mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga memahami norma dalam berinteraksi di ruang digital, melindungi diri dan data pribadi dari peretasan maupun penipuan, serta menjunjung privasi, hak cipta, dan tata krama komunikasi.
Pemateri berikutnya, Muhammad Jamilun, Direktur Pendidikan Sekolah Citra Alam, menyoroti pentingnya pembentukan karakter dan kecakapan generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi digital. Ia menyampaikan bahwa kemajuan teknologi menghadirkan berbagai peluang, tetapi juga tantangan berupa kesenjangan keterampilan digital, banjir informasi dan disinformasi, krisis kesehatan mental dan kecanduan, serta persoalan keamanan siber dan privasi data.
Menurut Muhammad Jamilun, pembentukan generasi digital perlu dilakukan secara utuh dengan memperhatikan profil Pelajar Pancasila, kecakapan abad ke-21, filosofi pendidikan karakter Ki Hadjar Dewantara, serta nilai-nilai pendidikan karakter. Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, literasi informasi, literasi media dan teknologi, fleksibilitas, kepemimpinan, inisiatif, produktivitas, dan keterampilan sosial menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi menghadapi lingkungan digital.
Ia juga menekankan pentingnya literasi digital yang bijak, termasuk kemampuan memahami informasi secara kritis, menghindari berbagai risiko di ruang digital, mengelola waktu penggunaan perangkat, serta memanfaatkan teknologi untuk belajar, membangun jejaring, dan menghasilkan konten positif. Penggunaan teknologi juga dapat diarahkan pada pembelajaran teknologi atau coding, kreativitas melalui media sosial, komunitas edukasi daring, serta berbagai kegiatan sosial dan pengembangan diri.
Penguatan generasi digital, lanjutnya, membutuhkan keterlibatan keluarga. Orang tua memiliki peran melalui keteladanan dalam menggunakan teknologi, penyusunan aturan mengenai waktu dan area bebas gawai, penggunaan teknologi proteksi, komunikasi yang terbuka dan empatik, serta konsistensi dalam penerapannya. Pendidikan digital pada akhirnya bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi membutuhkan sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Melalui kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara ini, pesan yang dibangun adalah bahwa transformasi digital perlu berjalan seiring dengan pemerataan konektivitas, peningkatan kecakapan dan etika digital, perlindungan anak dan data pribadi, serta pemanfaatan teknologi secara produktif. Sinergi berbagai pihak diharapkan mampu membentuk generasi Indonesia yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga aman, berkarakter, kreatif, produktif, dan berdaya di ruang digital.
