Jakarta, lajunetwork.id – Produsen alat berat asal China, XCMG, mulai mengoperasikan pabrik manufaktur pertamanya di luar negeri yang berlokasi di kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah, Maluku Utara, Senin (27/7).
Pabrik tersebut memproduksi peralatan berbasis energi baru, salah satunya wheel loader bertenaga listrik murni XC968-EV. Kehadiran fasilitas manufaktur ini menjadi bagian dari upaya XCMG memperkuat rantai industri alat berat di Indonesia sekaligus mendukung penggunaan peralatan rendah emisi.
Vice President Director XCMG, Song Zhike, mengatakan pengoperasian pabrik tersebut memungkinkan perusahaan membangun rantai industri yang mencakup berbagai tahapan, mulai dari penelitian dan pengembangan, manufaktur, pasokan, penjualan, hingga layanan dan dukungan pembiayaan.
“Dengan beroperasinya pabrik manufaktur energi baru ini, XCMG Indonesia mewujudkan rantai industri terintegrasi yang mencakup penelitian dan pengembangan, manufaktur, pasokan, penjualan, layanan, serta dukungan pembiayaan,” kata Song Zhike dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Menurut Song, fasilitas manufaktur di Indonesia tersebut dikembangkan dengan mengacu pada komitmen perusahaan terhadap pembangunan berkelanjutan.
Fokus utama pabrik diarahkan pada dua hal, yakni mendorong penggunaan peralatan energi baru sebagai pengganti peralatan konvensional dan mengembangkan ekonomi sirkular.
Dengan memanfaatkan kemampuan manufaktur di dalam negeri, pabrik tersebut ditargetkan mampu memasok alat berat bertenaga listrik dalam jumlah besar. Peralatan tersebut diharapkan dapat mendukung proses transisi menuju kegiatan ekonomi rendah karbon di berbagai sektor strategis Indonesia.
Song mengatakan penyerahan produksi perdana peralatan energi baru menjadi salah satu bentuk kerja sama antara XCMG dan pengelola kawasan IWIP.
Menurut dia, pembangunan pabrik hingga memasuki tahap operasional dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu setengah tahun sejak kerja sama kedua pihak ditandatangani.
“Sejak penandatanganan kerja sama, kedua belah pihak hanya membutuhkan waktu satu setengah tahun untuk menyelesaikan pembangunan hingga pengoperasian pabrik,” ujarnya.
Selain memperkuat kapasitas produksi, keberadaan pabrik tersebut juga diikuti dengan peningkatan keterlibatan tenaga kerja lokal. Saat ini, proporsi pekerja lokal di wilayah operasional XCMG di Indonesia disebut telah mendekati 80 persen.
Perusahaan menyatakan akan terus memperluas kesempatan kerja bagi tenaga kerja Indonesia. Pengembangan sumber daya manusia lokal juga menjadi bagian dari strategi perusahaan melalui peningkatan kompetensi teknis dan pengembangan talenta yang sesuai dengan kebutuhan industri alat berat.
Di sisi hilir, XCMG telah membangun jaringan penjualan dan layanan di berbagai wilayah Indonesia. Jaringan tersebut terdiri atas 32 jaringan penjualan dan 53 jaringan layanan.
Jaringan layanan tersebut didukung lebih dari 120 kendaraan layanan profesional serta sistem pengelolaan suku cadang dengan tiga tingkatan. Infrastruktur tersebut digunakan untuk mendukung lebih dari 30.000 unit peralatan XCMG yang saat ini beroperasi di Indonesia.
Song mengatakan produksi peralatan energi baru secara lokal dapat menjadi salah satu elemen penting dalam pengembangan infrastruktur hijau di Indonesia.
“Kehadiran peralatan energi baru yang diproduksi secara lokal menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung pembangunan infrastruktur hijau yang berkualitas dan berkelanjutan di Indonesia,” kata Song.
Pengoperasian pabrik tersebut sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu basis manufaktur XCMG di luar China. Dengan produksi alat berat energi baru di dalam negeri, perusahaan berupaya mendekatkan rantai pasok kepada pasar sekaligus mendukung kebutuhan peralatan untuk sektor industri dan pembangunan infrastruktur yang semakin mengarah pada penggunaan teknologi rendah emisi.
