Jakarta, lajunetwork.id – Pemerintah Indonesia menawarkan 32 proyek investasi strategis dengan nilai indikatif mencapai Rp207,64 triliun kepada investor Jepang. Puluhan proyek tersebut berasal dari sembilan badan usaha milik negara (BUMN) dan badan usaha milik daerah (BUMD).
Penawaran investasi itu mencakup sejumlah sektor strategis, mulai dari pembangunan jalan dan jalan tol, pengembangan kawasan hunian (housing and township development), properti komersial, perkeretaapian dan Transit-Oriented Development (TOD), hingga pelabuhan, logistik, serta fasilitas fabrikasi baja (steel fabrication).
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan mengatakan seluruh proyek telah melalui proses kurasi dan dipersiapkan sebagai peluang investasi bagi mitra internasional.
“Seluruh proyek tersebut telah dikurasi dan dipersiapkan sebagai peluang investasi yang menarik untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur nasional sekaligus membuka ruang kolaborasi dengan mitra strategis Jepang,” ujar Ferry dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Pemerintah memperkenalkan berbagai proyek tersebut melalui Indonesia-Japan Transportation and Infrastructure Business Forum and Business Matching 2026. Forum ini menjadi wadah untuk mempertemukan pemilik proyek di Indonesia dengan calon mitra dan investor dari Jepang.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Sebanyak 50 perwakilan dari 36 perusahaan Jepang turut hadir dalam forum tersebut.
Ferry mengatakan Indonesia tetap memiliki fundamental ekonomi yang kuat meskipun perekonomian global masih menghadapi ketidakpastian.
Menurut dia, perekonomian Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,61 persen. Sementara itu, inflasi tercatat 3,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sedangkan realisasi investasi telah menembus lebih dari Rp1.010 triliun.
“Kepercayaan investor juga tercermin dari dipertahankannya peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan *stable outlook* oleh S&P Global Ratings, serta hasil Survei JETRO FY2025 yang menunjukkan bahwa 69,1 persen perusahaan Jepang di Indonesia memperkirakan akan membukukan laba operasi,” kata Ferry.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8 persen pada 2029. Untuk mencapai sasaran tersebut, pemerintah terus mendorong masuknya investasi produktif yang tidak hanya meningkatkan kapasitas ekonomi, tetapi juga memperkuat produktivitas nasional.
Investasi tersebut diharapkan dapat mempercepat transfer teknologi, meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, serta menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.
Dalam kerangka itu, Jepang dinilai menjadi salah satu mitra strategis Indonesia, khususnya dalam pengembangan infrastruktur dan peningkatan investasi.
Penguatan kerja sama dengan Jepang juga diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang kolaborasi antara perusahaan kedua negara, termasuk dalam pembangunan infrastruktur transportasi, kawasan perkotaan, logistik, hingga industri pendukung.
Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Tokyo Maria Renata Hutagalung mengatakan hubungan kerja sama Indonesia dan Jepang telah berlangsung selama sekitar tujuh dekade.
Menurut Maria, Jepang merupakan salah satu mitra yang konsisten dan terpercaya dalam mendukung pembangunan Indonesia. Dukungan tersebut antara lain tercermin dalam keterlibatan Jepang pada sejumlah proyek strategis nasional, seperti MRT Jakarta dan Pelabuhan Patimban.
Melalui forum bisnis tersebut, kerja sama yang telah terbangun selama puluhan tahun diharapkan tidak berhenti pada proyek-proyek yang telah berjalan, tetapi terus berkembang ke berbagai bidang baru.
“Kerja sama yang telah terjalin diharapkan dapat terus diperkuat, khususnya dalam mendorong investasi, pengembangan kapasitas, serta transfer pengetahuan dan teknologi,” demikian disampaikan dalam forum tersebut.
Penawaran 32 proyek strategis dengan nilai indikatif Rp207,64 triliun menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas keterlibatan investor Jepang dalam pembangunan Indonesia. Selain mendukung kebutuhan pembiayaan infrastruktur, kolaborasi tersebut diharapkan memberikan manfaat jangka panjang melalui penguatan teknologi, kapasitas industri, dan penciptaan lapangan kerja.
