Jakarta, lajunetwork.id – Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan pemerintah akan mempercepat transformasi pengelolaan sampah menjadi energi listrik melalui proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Langkah tersebut dilakukan melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara.
Menurut Zulhas, persoalan sampah yang terus menumpuk di berbagai daerah sudah memasuki tahap darurat dan membutuhkan penanganan cepat dengan teknologi ramah lingkungan.
“Target dari sinergi itu sangat jelas, yakni menyelesaikan kedaruratan sampah di puluhan kabupaten/kota dalam tiga tahun ke depan dengan teknologi ramah lingkungan,” ujar Zulhas di Jakarta, Kamis (14/5/2026).
Sebagai langkah awal, BPI Danantara melalui PT Danantara Investment Management telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan sejumlah pemerintah daerah untuk mempercepat pembangunan PSEL di enam lokasi prioritas.
“Ditandatangani MoU antara Danantara dengan pemda untuk percepatan pembangunan PSEL di enam lokasi, yaitu Lampung, Serang, Medan, Semarang, Bogor-Depok, dan Kabupaten Bekasi,” kata Zulhas.
Ia menjelaskan pembangunan fasilitas tersebut difokuskan pada wilayah dengan volume sampah lebih dari 1.000 ton per hari. Pemerintah menargetkan pembangunan PSEL di sekitar 25 lokasi yang mencakup 62 kabupaten/kota dengan kondisi sampah darurat.
“Ditargetkan hampir 25 lokasi dengan 62 kabupaten/kota yang di atas 1.000 ton. Nanti di bawah 1.000 kita selesaikan bergantian, tapi target yang darurat dulu,” ujarnya.
Zulhas menilai penanganan sampah tidak bisa lagi ditunda karena dampaknya telah mencemari tanah, air, dan udara serta mengancam kesehatan masyarakat. Bahkan, menurutnya, ada timbunan sampah di sejumlah daerah yang tingginya sudah mencapai sekitar 14 hingga 15 lantai bangunan.
Karena itu, pemerintah mendorong percepatan pembangunan PSEL sebagai solusi untuk mengubah sampah menjadi energi bersih berupa listrik.
“Yang harus dipercepat menjadi energi bersih, listrik. Tanpa bau dan tanpa racun,” tuturnya.
Pemerintah menargetkan proyek-proyek PSEL darurat tersebut selesai secara bertahap dalam tiga tahun ke depan. Separuh proyek ditargetkan rampung pada 2027, sementara sisanya diselesaikan paling lambat Mei 2028.
“Dalam tiga tahun ke depan, separuh akan selesai 2027, separuh lagi Mei 2028,” kata Zulhas.
Sementara itu, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir menyebut proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik tersebut memiliki nilai investasi sangat besar, mencapai 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp87 triliun.
“Terima kasih atas dorongan percepatannya, Pak Menko. Ini merupakan proyek pengolahan sampah yang akan secara fundraising mencapai 5 miliar dolar AS (sekitar Rp87 triliun), jadi ini bukan nilai yang kecil. Ini proyek persampahan terbesar di dunia dari sisi fundraising dan salah satu tercepat dari sisi proses,” ujar Pandu.
Ia menambahkan percepatan pembangunan PSEL membutuhkan dukungan seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat, karena persoalan sampah telah menjadi krisis di banyak wilayah.
“Waktu kita sangat kecil, jadi semua harus bekerja sama, semua bergerak cepat,” katanya.
Di sisi lain, Zulhas juga mengapresiasi gerakan pilah sampah yang digagas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Menurutnya, gerakan pemisahan sampah organik, anorganik, dan bahan beracun itu dapat menjadi contoh nasional dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
“Kami memberikan penghargaan, apresiasi yang dilakukan Pak Gubernur ini karena ini akan menjadi inspirasi atau menjadi contoh bagi daerah-daerah di Tanah Air,” ujar Zulhas saat menghadiri Gerakan Pilah Sampah dalam rangka pencanangan HUT ke-499 Kota Jakarta.
Ia menilai persoalan terbesar saat ini berasal dari sampah rumah tangga yang belum dipilah dengan baik. Dengan sistem pemilahan, sampah dinilai dapat dimanfaatkan kembali sebelum dibuang, termasuk sebagai bahan baku energi listrik.
“Sampah musuh kita. Musuh Jakarta kemarin dan hari ini. Besok, setelah pengumuman Pak Gubernur, sampah mulai dipilah. Itu satu gerakan yang luar biasa, sehingga kita akan menyelesaikan sampah nanti menjadi harapan dan menjadi listrik penerang Jakarta,” ujar Zulhas.
