Teheran, lajunetwork.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan “serangan yang dijadwalkan” terhadap Iran setelah adanya permintaan dari sejumlah pemimpin regional Timur Tengah, di tengah berlangsungnya negosiasi intensif terkait konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump mengatakan keputusan tersebut diambil karena “negosiasi serius sedang berlangsung”.
“Kesepakatan akan dibuat, yang akan sangat dapat diterima oleh Amerika Serikat, serta semua negara di Timur Tengah dan sekitarnya,” tulis Trump.
Meski demikian, Trump tidak menjelaskan secara rinci bentuk terobosan yang telah dicapai dalam pembicaraan yang selama ini disebut mengalami kebuntuan.
Intervensi MBS dan Emir Qatar
Trump secara khusus memuji peran Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman yang disebutnya berhasil memengaruhi keputusan Washington untuk menunda operasi militer.
“Saya telah menginstruksikan Menteri Perang Pete Hegseth, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Daniel Caine, dan Militer Amerika Serikat, bahwa kita tidak akan melakukan serangan terjadwal ke Iran besok,” tulis Trump.
Namun, ia menegaskan militer AS tetap berada dalam posisi siaga penuh apabila negosiasi gagal menghasilkan kesepakatan yang dianggap memadai oleh Washington.
“Saya juga telah menginstruksikan mereka untuk bersiap melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran kapan saja jika kesepakatan yang dapat diterima tidak tercapai,” tambahnya.
Pernyataan tersebut muncul setelah beberapa hari retorika keras dari Trump terhadap Teheran. Sehari sebelumnya, ia memperingatkan bahwa “waktu terus berjalan” bagi Iran untuk mencapai kesepakatan dengan AS, atau “tidak akan ada yang tersisa dari mereka”.
Pakistan Jadi Mediator
Dalam perkembangan diplomatik terbaru, Pakistan disebut berperan sebagai mediator sejak Amerika Serikat bergabung dengan Israel dalam operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Trump sebelumnya menegaskan bahwa langkah militer tersebut diperlukan guna mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Namun, pemerintah Iran terus membantah tuduhan bahwa mereka tengah mengembangkan senjata nuklir.
Dalam unggahan terbarunya, Trump kembali menegaskan bahwa isu nuklir menjadi garis merah utama Washington.
“Kesepakatan ini akan mencakup, yang terpenting, tidak ada senjata nuklir untuk Iran,” tegas Trump.
Selain menuntut pembatasan pengayaan uranium, pemerintahan Trump juga disebut ingin memutus hubungan Iran dengan sekutu-sekutu regionalnya serta membatasi kemampuan rudal dan kekuatan angkatan laut Teheran.
Di sisi lain, Iran menilai tuntutan tersebut berlebihan. Pemerintah Iran meminta pencabutan sanksi ekonomi internasional serta pembebasan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Ketegangan juga meningkat terkait penguasaan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia, setelah Iran disebut menghambat perdagangan di kawasan tersebut dan AS merespons dengan pengerahan blokade angkatan laut.
Iran: Dialog Bukan Penyerahan Diri
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menegaskan bahwa negaranya tetap terbuka untuk dialog, tetapi tidak akan menyerahkan hak-hak nasionalnya.
“Dialog bukan berarti menyerah,” tulis Pezeshkian di media sosial.
“Republik Islam Iran memasuki dialog dengan bermartabat, berwibawa, dan melindungi hak-hak bangsa, dan tidak akan mundur dari hak-hak hukum rakyat dan negara dengan cara apa pun,” lanjutnya.
Iran dan AS sebenarnya sempat mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 8 April lalu. Namun, kesepakatan tersebut dinilai rapuh karena kedua negara saling menuduh melakukan pelanggaran.
Pada akhir April, Trump bahkan sempat berencana mengirim utusannya Steve Witkoff dan menantunya Jared Kushner ke Pakistan untuk melanjutkan negosiasi. Akan tetapi, rencana tersebut kemudian dibatalkan akibat frustrasi terhadap mandeknya proses dialog.
Sentimen Negatif di Dalam Negeri AS
Konflik dengan Iran juga mulai menjadi beban politik bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat pada November mendatang.
Berdasarkan jajak pendapat terbaru yang dirilis harian The New York Times, sebanyak 64 persen warga dewasa AS menilai perang dengan Iran merupakan keputusan yang salah.
Selain tekanan politik, perang juga memunculkan beban ekonomi besar bagi Washington. Menurut pejabat Pentagon, konflik tersebut telah menelan biaya sedikitnya 29 miliar dolar AS sejauh ini, dengan sejumlah analis memperkirakan angka sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.
