Jakarta, lajunetwork.id – Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Gambia kembali mengaktifkan Pusat Pelatihan Pertanian Petani Pedesaan (Agricultural Rural Farmers Training Center/ARFTC) di Jenoi, Gambia, sebagai bagian dari penguatan kerja sama bilateral di bidang pertanian dan ketahanan pangan. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas petani sekaligus mendukung pembangunan sektor pertanian di kawasan Afrika Barat.
Peresmian kembali ARFTC dilakukan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arrmanatha Nasir bersama Menteri Luar Negeri Gambia Sering Modou Njie di sela pelaksanaan Sidang Komisi Bersama (Joint Commission) ke-2 Indonesia–Gambia yang berlangsung di Banjul pada Rabu (1/7).
Dalam keterangan tertulis Kementerian Luar Negeri RI yang diterima di Jakarta, Kamis, Arrmanatha menegaskan bahwa pengaktifan kembali pusat pelatihan tersebut mencerminkan komitmen berkelanjutan Indonesia dalam mendukung pembangunan pertanian di Gambia melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia, transfer pengetahuan, dan peningkatan ketahanan pangan.
“Ini adalah pembaruan komitmen Indonesia untuk terus berjalan bersama Gambia dalam memperkuat ketahanan pangan, membangun kapasitas, dan berbagi pengetahuan yang bermanfaat bagi generasi mendatang,” ujar Arrmanatha.
Menurutnya, kerja sama di sektor pertanian menjadi salah satu fondasi penting dalam mempererat hubungan kedua negara. Indonesia tidak hanya ingin memperkuat hubungan diplomatik, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata melalui program-program pembangunan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Selain menghidupkan kembali fungsi ARFTC, Indonesia juga tengah menjajaki peluang kerja sama yang lebih luas dengan sejumlah negara mitra pembangunan melalui skema Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (South-South and Triangular Cooperation/SSTC). Melalui mekanisme tersebut, ARFTC direncanakan menjadi lokasi pelatihan bagi peserta dari berbagai negara di Afrika.
Inisiatif tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan manfaat pusat pelatihan, sehingga tidak hanya melayani kebutuhan Gambia, tetapi juga menjadi pusat pengembangan kompetensi pertanian bagi negara-negara Afrika Barat.
Pemerintah Indonesia menargetkan ARFTC berkembang menjadi pusat unggulan regional yang berperan dalam mendorong inovasi pertanian, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperkuat ketahanan pangan di kawasan.
Arrmanatha menegaskan Indonesia akan terus mendampingi Gambia dalam berbagai program pembangunan, khususnya di sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat.
Ia menilai hubungan kedua negara dibangun atas dasar kemitraan yang saling menguntungkan dan komitmen jangka panjang.
“Karena persahabatan sejati, sebagaimana hasil panen terbaik, lahir dari komitmen dan aksi nyata yang terus kita pupuk dan pelihara bersama,” katanya.
ARFTC Jenoi bukan merupakan program baru. Pusat pelatihan tersebut telah berdiri sejak 1996 melalui kolaborasi Pemerintah Indonesia, Yayasan Amal Masyarakat Pertanian Indonesia (YAMPI), dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO).
Selama hampir tiga dekade beroperasi, ARFTC telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 6.000 petani dan penyuluh pertanian yang berasal dari Gambia maupun sejumlah negara Afrika Barat, antara lain Guinea, Liberia, Mali, dan Senegal.
Melalui berbagai pelatihan teknis, peserta memperoleh pengetahuan mengenai budidaya pertanian, peningkatan produktivitas, pengelolaan lahan, hingga pengembangan kapasitas kelembagaan petani.
Dengan diresmikannya kembali ARFTC, Indonesia berharap pusat pelatihan tersebut dapat memainkan peran yang lebih besar dalam mendukung transformasi sektor pertanian Afrika Barat. Ke depan, kerja sama ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan kawasan, tetapi juga menjadi contoh nyata kontribusi Indonesia dalam pembangunan internasional melalui diplomasi berbasis kerja sama dan pemberdayaan masyarakat.
