Jakarta, lajunetwork.id – PT Perkebunan Nusantara III (Persero) atau PTPN III membukukan laba konsolidasi setelah pajak sebesar Rp6,39 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat 81,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, terutama ditopang oleh kenaikan harga komoditas kelapa sawit mentah (crude palm oil atau CPO).
Pelaksana Tugas Direktur Utama PTPN III, Iswahyudi, mengatakan harga jual rata-rata CPO mencapai Rp14.222 per kilogram, jauh melampaui target dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) yang dipatok sebesar Rp11.749 per kilogram.
“Ini sekitar 21 persen di atas RKAP kami. Begitu juga dengan produk turunan CPO, yakni PKO, yang harganya mencapai 98 persen di atas target RKAP sebesar Rp25.071 per kilogram,” kata Iswahyudi dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin.
Menurut Iswahyudi, sebagian besar laba holding masih berasal dari empat komoditas utama. Penjualan kelapa sawit menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 75,06 persen dari total pendapatan. Selanjutnya disusul komoditas gula sebesar 13 persen, karet 7,1 persen, dan teh sekitar 1,4 persen.
Selain didukung harga jual yang membaik, peningkatan laba juga dipengaruhi oleh pertumbuhan produktivitas sejumlah komoditas. Produksi CPO tercatat meningkat menjadi sekitar 2,7 juta ton, atau naik sekitar 4 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
Produksi tandan buah segar (TBS) juga mengalami kenaikan menjadi 12,3 juta ton, meningkat sekitar 3,9 persen dibandingkan 2024. Sementara produktivitas CPO mencapai 4,8 ton per hektare, atau sekitar 4,43 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, Iswahyudi mengakui masih terdapat sejumlah tantangan operasional yang perlu diselesaikan untuk mencapai target kinerja pada 2026. Salah satunya adalah peningkatan produksi karet yang secara volume masih berada di bawah capaian tahun sebelumnya.
Produksi karet pada 2025 tercatat mencapai 123,38 ribu ton dengan produktivitas 1.077 kilogram per hektare. Walaupun produktivitas meningkat, total produksi baru mencapai sekitar 98,2 persen dibandingkan realisasi 2024.
Komoditas teh juga menghadapi tantangan serupa. Produktivitas meningkat menjadi 2.082 kilogram per hektare, sedangkan total produksi mencapai 43,19 ribu ton.
Untuk tahun 2026, PTPN III menargetkan produksi karet kering dapat meningkat menjadi 144 ribu ton. Sementara produksi teh kering diproyeksikan naik sekitar 3 persen menjadi 49,4 ribu ton.
Perseroan juga memasang target pertumbuhan pada komoditas strategis lainnya. Produksi CPO ditargetkan mencapai 2,8 juta ton, atau sekitar 10 persen lebih tinggi dibandingkan realisasi 2025. Adapun produksi gula dipatok naik sekitar 25 persen hingga mencapai 600 ribu ton.
Iswahyudi berharap target operasional tersebut dapat didukung Komisi VI DPR RI sehingga pendapatan holding perkebunan dapat meningkat menjadi Rp73,6 triliun pada akhir 2026, atau tumbuh sekitar 40 persen dibandingkan realisasi pendapatan 2025 yang mencapai Rp59 triliun.
Menurut dia, peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, serta optimalisasi harga komoditas akan menjadi faktor utama untuk mencapai sasaran pertumbuhan tersebut.
