Jakarta, lajunetwork.id – Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah memperkuat perlindungan keselamatan bagi petugas dan relawan yang terlibat dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Seruan tersebut disampaikan menyusul gugurnya sejumlah petugas dan relawan saat berjuang memadamkan api di berbagai daerah.
Puan menyampaikan belasungkawa kepada para korban sekaligus memberikan penghargaan atas dedikasi seluruh pihak yang terlibat dalam upaya pemadaman karhutla.
Menurut dia, keselamatan petugas dan relawan harus menjadi perhatian utama pemerintah, mengingat mereka menghadapi risiko besar saat bertugas di lapangan.
“Tentunya kita banyak berterima kasih atas dedikasi para petugas dan bantuan relawan dalam proses penanganan karhutla,” kata Puan di Jakarta, Jumat.
Ia menilai, gugurnya sejumlah petugas dan relawan menjadi pengingat penting bagi pemerintah untuk mempercepat pengendalian kebakaran hutan dan lahan sekaligus memastikan perlindungan terhadap semua pihak yang terdampak bencana tersebut, termasuk masyarakat yang terpapar asap kebakaran.
Menurut Puan, para petugas dan relawan menjalankan tugas kemanusiaan dengan mempertaruhkan keselamatan diri demi melindungi masyarakat dan mencegah api meluas.
Karena itu, pengabdian mereka perlu didukung sistem perlindungan yang memadai agar risiko selama proses pemadaman dapat diminimalkan.
“Para petugas dan relawan yang membantu penanganan berangkat dengan harapan dapat menyelamatkan sesama dan kembali kepada keluarganya. Pengabdian itu perlu ditopang perlindungan yang dapat diandalkan,” ujarnya.
Puan menegaskan, banyaknya petugas dan relawan yang gugur harus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah, terutama terkait standar operasional prosedur (SOP) dalam penanganan karhutla.
Ia meminta standar keselamatan bagi petugas maupun relawan ditinjau kembali untuk memastikan prosedur pemadaman dilaksanakan dengan memperhatikan kondisi lapangan dan potensi bahaya yang dihadapi.
Evaluasi tersebut dinilai penting agar upaya pemadaman tidak hanya berfokus pada pengendalian api, tetapi juga menjamin keselamatan personel yang terlibat.
Perlindungan yang memadai diharapkan dapat mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa dalam penanganan kebakaran serupa pada masa mendatang.
“Petugas dan relawan pemadaman karhutla adalah pahlawan kemanusiaan karena berjuang demi membantu keselamatan masyarakat. Pengorbanan mereka seharusnya mendapat perlindungan dan penghargaan yang layak dari negara,” kata Puan.
Selain menyoroti keselamatan petugas secara umum, Puan turut menyampaikan apresiasi kepada perempuan yang mengambil bagian sebagai relawan dalam penanganan karhutla.
Keterlibatan mereka dinilai sebagai bagian dari kontribusi masyarakat dalam membantu mengatasi bencana dan melindungi lingkungan serta permukiman warga.
Berdasarkan informasi yang diterima Puan, sedikitnya sembilan petugas dan relawan dilaporkan meninggal dunia saat membantu pemadaman karhutla di sejumlah wilayah Indonesia.
Rinciannya, tiga orang dilaporkan gugur di Kalimantan Tengah, lima petugas atau relawan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Probolinggo, Jawa Timur, serta satu orang lainnya di Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, bernama Nurdin.
Selain itu, seorang warga lanjut usia di Samarinda, Kalimantan Timur, juga dilaporkan meninggal dunia setelah membantu memadamkan kebakaran. Warga tersebut berupaya mencegah api menjalar hingga ke kawasan permukiman.
Rentetan kejadian tersebut menambah perhatian terhadap risiko yang dihadapi petugas dan masyarakat yang terlibat langsung dalam penanganan karhutla.
Dalam kondisi kebakaran yang berpotensi membahayakan keselamatan, kesiapan personel, penerapan prosedur keselamatan, serta dukungan perlengkapan menjadi aspek penting dalam pelaksanaan pemadaman.
Puan menekankan bahwa dedikasi para petugas dan relawan harus diimbangi tanggung jawab negara untuk memberikan perlindungan dan penghargaan yang layak.
Upaya pengendalian karhutla, menurutnya, perlu berjalan seiring dengan langkah nyata untuk menjaga keselamatan mereka yang berada di garis depan penanganan bencana.
