Jakarta, lajunetwork.id – Kawasan Asia kembali menegaskan posisinya sebagai pusat produksi pangan perairan dunia. Laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menunjukkan bahwa Asia menyumbang sekitar 76 persen dari total produksi global hewan perairan dan alga pada tahun 2024, sekaligus menjadi motor utama pertumbuhan sektor akuakultur dunia.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam laporan The State of World Fisheries and Aquaculture 2026 yang diluncurkan pada ajang Our Ocean Conference 2026 di Mombasa, Kenya, Selasa (16/6).
Berdasarkan laporan tersebut, produksi hewan perairan dan alga dunia mencapai 235 juta ton pada 2024. Dari jumlah tersebut, Asia berkontribusi sebesar 179 juta ton, termasuk sekitar 130 juta ton yang berasal dari sektor akuakultur atau budidaya perairan.
FAO menilai perkembangan akuakultur menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan produksi pangan perairan global dalam dua dekade terakhir. Sejak tahun 2000 hingga 2024, produksi hewan perairan hasil budidaya meningkat sekitar 70 juta ton, dengan Asia menyumbang sekitar 90 persen dari total pertumbuhan tersebut.
Kawasan ini juga mampu mempertahankan laju pertumbuhan rata-rata tahunan sebesar lima persen selama periode tersebut, menjadikannya sebagai pusat perkembangan industri akuakultur dunia.
Asisten Direktur Jenderal sekaligus Perwakilan Regional FAO untuk Asia dan Pasifik, Alue Dohong, mengatakan keberhasilan Asia merupakan hasil dari investasi jangka panjang yang dilakukan berbagai negara dalam pengembangan teknologi budidaya, inovasi sektor perikanan, serta penguatan rantai nilai industri pangan perairan.
“Kepemimpinan Asia dalam produksi pangan perairan mencerminkan investasi selama puluhan tahun di bidang akuakultur, inovasi, dan pengembangan rantai pasok. Dengan meningkatnya kebutuhan pangan perairan secara global, kawasan ini memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan sekaligus mendukung kehidupan jutaan masyarakat,” ujarnya.
Selain mendominasi produksi hewan perairan, Asia juga menjadi penghasil alga terbesar di dunia. Pada tahun 2024, kawasan ini menyumbang sekitar 97 persen dari total produksi alga global yang mencapai hampir 40 juta ton.
Laporan FAO juga menyoroti konsentrasi pertumbuhan produksi akuakultur di sejumlah negara Asia. China masih menjadi produsen terbesar dengan total produksi budidaya hewan perairan mencapai 57,6 juta ton pada 2024.
Di belakang China, sejumlah negara Asia lainnya turut memainkan peran penting dalam menopang pasokan pangan perairan dunia, yakni India, Indonesia, Vietnam, dan Bangladesh.
Indonesia menjadi salah satu negara yang berkontribusi besar terhadap pertumbuhan sektor akuakultur regional maupun global. Potensi sumber daya kelautan dan perairan yang luas menjadikan Indonesia sebagai salah satu pilar penting dalam sistem pangan perairan dunia.
Secara keseluruhan, produksi hewan perairan budidaya di Asia telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam dua dekade terakhir hingga mencapai 91,5 juta ton pada tahun 2024.
Tidak hanya unggul dalam sektor budidaya, Asia juga memimpin produksi perikanan tangkap dunia, baik di perairan laut maupun perairan darat.
FAO mencatat kawasan Asia menyumbang sekitar 63 persen produksi perikanan tangkap laut global dan 51 persen produksi perikanan tangkap perairan darat dunia.
Dalam sektor perikanan laut, lima negara Asia yang menjadi produsen terbesar adalah China, Indonesia, India, Vietnam, dan Jepang. Kelima negara tersebut secara bersama-sama menyumbang sekitar 37 persen dari total produksi perikanan tangkap laut dunia.
Sementara itu, pada sektor perikanan perairan darat, Asia menghasilkan sekitar 7,8 juta ton hewan perairan sepanjang tahun 2024.
Lima negara utama di sektor ini adalah India, Bangladesh, China, Myanmar, dan Indonesia. Kelimanya menyumbang sekitar separuh dari total produksi perikanan perairan darat global.
FAO menilai dominasi Asia dalam sektor perikanan dan akuakultur tidak hanya berdampak pada perdagangan internasional, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan pemenuhan gizi masyarakat.
Produksi pangan perairan yang tinggi dinilai menjadi sumber protein penting bagi miliaran penduduk dunia, terutama di negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada sektor perikanan sebagai sumber mata pencaharian.
Dengan tren permintaan pangan global yang terus meningkat, Asia diperkirakan akan tetap menjadi pusat pertumbuhan industri perikanan dan akuakultur dunia dalam beberapa dekade mendatang.
Keberhasilan kawasan ini mempertahankan produktivitas sekaligus mengembangkan praktik budidaya yang berkelanjutan akan menjadi faktor penting dalam menjawab tantangan kebutuhan pangan dunia di masa depan.
