Jakarta – Badan Pangan Nasional bersama Perum Bulog menyalurkan 250 ton jagung pakan melalui program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Kabupaten Magetan. Program ini bertujuan membantu menekan biaya produksi peternak unggas yang saat ini menghadapi tingginya harga pakan.
Direktur SPHP Bapanas, Maino Dwi Hartono, mengatakan distribusi jagung pakan SPHP resmi dimulai pada Sabtu dan diharapkan mampu meringankan beban peternak unggas di Magetan.
“Hari ini proses penyaluran jagung SPHP perdana secara nasional dimulai di Magetan,” ujar Maino saat menghadiri pelepasan distribusi perdana di Gudang Gulun Magetan bersama Bulog dan Bupati Magetan, Nanik Endang Rusminiarti.
Menurut Maino, harga jagung pakan yang selama ini dibeli peternak di Magetan berada di kisaran Rp6.600 per kilogram dengan kadar air 16–17 persen. Sementara itu, jagung SPHP yang disediakan Bulog memiliki kualitas lebih baik dengan kadar air 12–14 persen dan dijual maksimal Rp5.500 per kilogram di tingkat peternak.
Distribusi awal dilakukan melalui purchase order (PO) sebanyak 250 ton oleh dua koperasi peternak di Magetan. Pemesanan dilakukan melalui platform Klik SPHP Jagung pada Jumat (8/5).
Secara keseluruhan, alokasi jagung pakan SPHP untuk wilayah Magetan mencapai 7.900 ton dan akan disalurkan secara bertahap hingga akhir 2026.
Program ini ditujukan bagi peternak ayam petelur (layer), peternak mandiri, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bapanas memastikan harga jagung SPHP tidak boleh melebihi Rp5.500 per kilogram agar manfaatnya benar-benar dirasakan peternak.
Maino menjelaskan, langkah tersebut penting karena harga telur ayam ras di tingkat peternak Magetan saat ini berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp26.500 per kilogram. Berdasarkan data per 8 Mei 2026, harga telur di tingkat peternak hanya berkisar Rp19.000–Rp21.000 per kilogram.
Ia menambahkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan telur ayam ras mengalami deflasi bulanan sebesar 4,29 persen pada April 2026, setelah sebelumnya mengalami inflasi 2,34 persen pada Maret 2026.
Untuk mengatasi penurunan harga telur, Bapanas telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) meningkatkan penyerapan telur langsung dari peternak. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) guna menyalurkan telur dari daerah surplus ke wilayah yang mengalami kekurangan stok.
Sementara itu, Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti menyampaikan apresiasi kepada Bapanas dan Bulog atas dukungan terhadap peternak di wilayahnya.
“Pemerintah daerah mengucapkan terima kasih kepada Bapanas dan Bulog atas kontribusinya dalam mengatasi persoalan pakan ternak di Magetan,” katanya.
