Jakarta — Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 akan berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. Proyeksi ini disampaikan dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan April 2026 yang digelar secara virtual pada Rabu di Jakarta.
Perry menegaskan bahwa Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan, mencakup kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Langkah ini dilakukan secara sinergis dengan kebijakan pemerintah guna menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan Pemerintah untuk menjaga stabilitas dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Perry.
Ia menjelaskan bahwa upaya mendorong pertumbuhan ekonomi menjadi semakin penting di tengah memburuknya kondisi serta prospek ekonomi global. Meski demikian, berbagai indikator terkini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 mengalami peningkatan, terutama didukung oleh kuatnya permintaan domestik.
Konsumsi rumah tangga tercatat meningkat, didorong oleh keyakinan pelaku ekonomi yang tetap terjaga serta kondisi pendapatan masyarakat yang stabil. Selain itu, momentum perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), khususnya Idulfitri 1447 Hijriah, turut memberikan dorongan terhadap peningkatan permintaan.
Di sisi lain, belanja pemerintah juga mengalami kenaikan, antara lain melalui penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR), peningkatan belanja sosial, serta berbagai insentif tambahan termasuk transfer ke daerah. Faktor-faktor ini berkontribusi dalam menjaga daya beli dan aktivitas ekonomi.
Investasi, khususnya pada sektor bangunan, tetap menunjukkan kinerja positif. Hal ini didorong oleh percepatan realisasi berbagai proyek strategis dan program prioritas pemerintah yang terus berjalan.
Ke depan, Perry menekankan pentingnya penguatan kebijakan baik dari pemerintah maupun Bank Indonesia untuk menghadapi potensi perlambatan ekonomi global. Berbagai respons kebijakan disiapkan untuk memitigasi dampak eksternal sekaligus mengoptimalkan sumber pertumbuhan dari dalam negeri.
“Dalam kaitan ini, berbagai program prioritas pemerintah untuk menyerap tenaga kerja, meningkatkan permintaan domestik, dan tetap memperkuat ketahanan fiskal terus dilakukan,” tutupnya.
Dengan sinergi kebijakan yang kuat dan fokus pada penguatan permintaan domestik, prospek ekonomi Indonesia diharapkan tetap terjaga meskipun di tengah tantangan global yang meningkat.
