Jakarta – Ketua Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi’iyah (YAPTA) yang juga anggota DPD RI, Dailami Firdaus, menegaskan pentingnya memberikan pemahaman yang objektif kepada generasi muda terkait konflik di Timur Tengah. Hal ini dinilai krusial agar dinamika global tidak berdampak pada stabilitas nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Seminar Internasional bertajuk *“Dinamika Konflik Global dan Tanggung Jawab Moral Dunia Islam: Refleksi Atas Perkembangan Terbaru Iran” yang digelar di Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA), Jakarta Timur, Rabu.
Menurut Dailami, sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, Indonesia harus mampu menyikapi konflik global secara bijak serta menjaga persatuan nasional.
“Bangsa Indonesia harus mampu menyikapi konflik global secara bijak dan menjaga persatuan nasional. Jangan sampai konflik tersebut bergeser atau berdampak ke dalam negeri,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mencegah munculnya konflik pemikiran di tengah masyarakat melalui pendekatan edukatif dan penguatan literasi publik.
Lebih lanjut, Dailami menilai dunia Islam perlu tampil sebagai kekuatan moral dan etis dalam merespons meningkatnya konflik global, termasuk ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
“Dunia Islam harus hadir sebagai suara moral, kekuatan etis, dan penjaga nilai kemanusiaan universal. Diam terhadap ketidakadilan bukanlah sikap yang diajarkan,” tegasnya.
Dalam konteks nasional, ia mengingatkan bahwa konstitusi Indonesia menolak segala bentuk penjajahan, sehingga peran aktif Indonesia dalam mendorong perdamaian dunia menjadi penting.
“Indonesia harus konsisten memperjuangkan perdamaian, tegas terhadap pelanggaran kedaulatan, dan aktif dalam diplomasi global. Kita juga berpotensi menjadi jembatan dialog dunia,” tambahnya.
Dailami menilai penguatan diplomasi, ketahanan nasional, serta kebijakan berbasis riset menjadi kunci agar Indonesia tidak mudah terpengaruh oleh dinamika global.
Sementara itu, Rektor UIA, Masduki Ahmad, menegaskan pentingnya peran pemerintah dan lembaga pendidikan dalam mencegah konflik pemikiran di masyarakat.
Menurutnya, edukasi yang tepat dapat membentuk generasi muda yang rasional dan tidak mudah terprovokasi.
“Penting bagi kita untuk memberikan pemahaman dan kecerdasan kepada mahasiswa agar mampu melihat mana yang benar dan mana yang salah,” ujarnya.
Masduki menegaskan bahwa pihaknya tidak terlibat dalam politik praktis, melainkan fokus pada edukasi berbasis nilai konstitusi dan kepentingan nasional. Ia juga menilai forum diskusi dan seminar sebagai ruang strategis untuk memberikan pencerahan kepada mahasiswa dan akademisi.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Poros Dunia Wasatiyyat Islam, Din Syamsuddin, memaparkan analisis terkait dinamika konflik global yang melibatkan Iran dan kekuatan besar dunia.
Ia menilai konflik tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor geopolitik, tetapi juga dimensi ideologis dan teologis.
“Suka atau tidak, episentrum peradaban dunia telah bergeser, dan Barat sedang mengalami penurunan. Pergeseran pusat ekonomi ke Asia Pasifik menjadi faktor penting dalam dinamika global,” jelasnya.
Din juga menyoroti ketahanan nasional Iran yang dinilai kuat berkat tradisi pendidikan, intelektual, serta nilai spiritual yang ditanamkan sejak Revolusi Iran 1979.
Menurutnya, faktor sejarah, budaya, dan pendidikan tersebut membentuk karakter bangsa yang tangguh dalam menghadapi tekanan geopolitik.
Ia menutup dengan menekankan pentingnya melihat konflik global secara komprehensif, tidak hanya dari sisi politik, tetapi juga dari perspektif historis, ideologis, dan peradaban.
