Moskow, lajunetwork.id – Eropa diperkirakan akan menghadapi peningkatan signifikan kasus penyakit menular dalam beberapa tahun ke depan. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC) memproyeksikan sekitar 80.000 kasus baru HIV dan lebih dari 9.000 kematian akibat tuberkulosis (TB) akan terjadi di kawasan tersebut dalam tiga tahun mendatang.
Peringatan itu disampaikan Direktur ECDC Pamela Rendi-Wagner sebagaimana dilaporkan media Eropa, EUobserver, pada Rabu (3/6). Proyeksi tersebut menambah kekhawatiran terhadap tantangan kesehatan masyarakat yang masih dihadapi negara-negara Eropa pascapandemi.
Menurut ECDC, peningkatan kasus HIV dan TB terjadi di tengah tren kenaikan berbagai penyakit menular yang kembali mengancam kesehatan publik. Sebelumnya, pada 21 Mei lalu, lembaga tersebut melaporkan bahwa Eropa mencatat angka infeksi menular seksual tertinggi dalam lebih dari satu dekade sepanjang 2024.
Penyakit seperti sifilis dan gonore menjadi bagian dari lonjakan kasus yang diamati regulator kesehatan Uni Eropa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular masih menghadapi berbagai tantangan di kawasan tersebut.
Data yang dipaparkan ECDC menunjukkan penyakit menular, termasuk HIV dan tuberkulosis, menyebabkan sekitar 59.000 kematian setiap tahun di negara-negara Uni Eropa serta sejumlah negara mitra seperti Islandia, Liechtenstein, dan Norwegia.
Selain itu, saat ini diperkirakan sekitar 800.000 orang hidup dengan HIV di wilayah tersebut. Angka tersebut menunjukkan bahwa HIV masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan otoritas kesehatan.
Rendi-Wagner menegaskan bahwa situasi ini semakin kompleks karena meningkatnya ancaman resistansi antimikroba, yang kini dianggap sebagai salah satu tantangan kesehatan terbesar di Eropa.
Resistansi antimikroba terjadi ketika bakteri, virus, jamur, atau parasit mengalami perubahan sehingga tidak lagi merespons pengobatan yang sebelumnya efektif. Akibatnya, infeksi menjadi lebih sulit disembuhkan, risiko komplikasi meningkat, dan angka kematian dapat bertambah.
Menurut para ahli kesehatan, perkembangan resistansi antimikroba berpotensi menghambat berbagai upaya pengendalian penyakit menular karena mempersempit pilihan terapi yang tersedia bagi pasien.
Peningkatan kasus HIV, tuberkulosis, serta penyakit menular seksual lainnya menjadi sinyal bahwa sistem kesehatan di Eropa perlu memperkuat strategi pencegahan, deteksi dini, dan akses pengobatan. Selain itu, edukasi kesehatan masyarakat dan pengawasan terhadap penggunaan antibiotik dinilai menjadi langkah penting untuk menekan penyebaran penyakit dan mencegah meningkatnya resistansi antimikroba.
Dengan proyeksi puluhan ribu kasus baru HIV dan ribuan kematian akibat tuberkulosis dalam beberapa tahun mendatang, otoritas kesehatan Eropa dihadapkan pada tantangan besar untuk memperkuat respons kesehatan masyarakat dan mencegah memburuknya situasi epidemiologis di kawasan tersebut.
