Beirut, lajunetwork.id – Kelompok Hizbullah mengklaim telah melancarkan sejumlah serangan terhadap pasukan Israel di wilayah Lebanon selatan pada Jumat (5/6/2026). Serangan tersebut disebut menyasar konsentrasi personel dan kendaraan militer Israel yang berada di sekitar Kastil Beaufort, salah satu lokasi strategis di kawasan perbatasan.
Dalam beberapa pernyataan terpisah, Hizbullah menyebut operasi yang dilakukan mencakup peluncuran rudal presisi dan serangan artileri yang dilakukan secara bertahap ke area yang menjadi titik penempatan pasukan Israel.
Kelompok perlawanan yang berbasis di Lebanon itu menyatakan bahwa sasaran utama serangan adalah konsentrasi militer Israel di sekitar kawasan Kastil Beaufort. Selain rudal presisi, Hizbullah juga mengaku melancarkan tiga gelombang tembakan artileri ke wilayah yang sama.
Tidak hanya itu, Hizbullah mengklaim para pejuangnya turut menyerang pasukan Israel yang bergerak di sebelah timur Kota Ghandouriyeh dengan menggunakan bahan peledak. Menurut kelompok tersebut, serangan itu mengakibatkan korban di pihak militer Israel.
Hizbullah menyebut pasukan Israel kemudian melakukan evakuasi terhadap korban yang terluka di tengah kepulan asap tebal sebelum membalas dengan tembakan artileri dan serangan udara ke sejumlah titik di sekitar lokasi kejadian.
Puluhan Operasi dalam Sehari
Sebelumnya, Hizbullah mengumumkan telah melaksanakan sedikitnya 25 operasi militer terhadap pasukan Israel di Lebanon selatan dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Operasi tersebut disebut melibatkan penggunaan berbagai jenis persenjataan, termasuk pesawat nirawak atau drone, roket, rudal anti-tank, serta artileri.
Intensitas serangan yang meningkat menunjukkan masih tingginya ketegangan di kawasan perbatasan meskipun upaya diplomatik untuk meredakan konflik terus dilakukan.
Di sisi lain, militer Israel pada Kamis (4/6/2026) mengonfirmasi tewasnya seorang komandan tank dari Batalion ke-75 Brigade Lapis Baja ke-7 dalam operasi militer di Lebanon selatan.
Dengan tambahan korban tersebut, jumlah personel militer Israel yang dilaporkan tewas sejak pecahnya konflik regional yang dipicu perang Iran pada akhir Februari mencapai 28 orang.
Gencatan Senjata Diperbarui
Perkembangan terbaru di lapangan terjadi hanya dua hari setelah Lebanon dan Israel menyepakati pembaruan gencatan senjata yang sebelumnya dinilai masih rapuh. Kesepakatan itu juga mencakup pembentukan zona percontohan sebagai bagian dari langkah deeskalasi konflik di wilayah perbatasan.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Tentara Lebanon menjadi satu-satunya pihak yang memiliki kewenangan penguasaan teritorial di kawasan yang disepakati, sementara seluruh aktor non-negara dikecualikan dari pengaturan tersebut.
Kesepakatan diumumkan melalui pernyataan bersama setelah putaran keempat perundingan yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Negosiasi dilakukan menyusul meningkatnya operasi militer Israel di wilayah Lebanon dalam beberapa pekan terakhir.
Ribuan Korban Jiwa
Konflik yang terus berlangsung telah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Berdasarkan laporan yang beredar, serangan Israel di Lebanon sejak 2 Maret telah menyebabkan hampir 3.500 orang meninggal dunia.
Angka tersebut tercatat meskipun gencatan senjata mulai diberlakukan pada 17 April dan kemudian diperpanjang hingga awal Juli. Situasi keamanan di sepanjang perbatasan Lebanon-Israel masih dinilai rentan, dengan potensi eskalasi yang tetap tinggi apabila bentrokan bersenjata terus terjadi.
Komunitas internasional hingga kini terus mendorong kedua pihak untuk menahan diri dan mematuhi kesepakatan gencatan senjata guna mencegah meluasnya konflik yang dapat mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.
