Jakarta, lajunetwork.id – Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menegaskan eratnya hubungan antara Pakistan dan Iran yang ia gambarkan sebagai sebuah ikatan persaudaraan. Pernyataan tersebut disampaikan setelah pertemuannya dengan delegasi Iran dalam rangkaian perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung di Burgenstock, Swiss.
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari proses diplomatik yang dimulai setelah ditandatanganinya Nota Kesepahaman (MoU) perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat pada pekan sebelumnya. Kesepakatan awal itu membuka jalan bagi negosiasi lanjutan guna mencapai perjanjian damai yang lebih komprehensif dan permanen.
Dalam keterangannya kepada media usai pertemuan pada Minggu (21/6), Sharif menekankan bahwa Pakistan dan Iran memiliki hubungan yang telah terjalin kuat selama bertahun-tahun sebagai negara bertetangga yang berbagi kepentingan strategis di kawasan.
“Hubungan Iran dan Pakistan adalah hubungan persaudaraan yang dibangun atas dasar sejarah, kedekatan geografis, dan kepentingan bersama untuk menciptakan stabilitas kawasan,” ujar Sharif.
Ia menambahkan bahwa kedua negara memiliki visi yang sama dalam mendorong pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di kawasan. Menurutnya, kerja sama yang erat antara negara-negara regional menjadi faktor penting dalam menciptakan perdamaian dan kemakmuran yang berkelanjutan.
Perundingan yang berlangsung di Swiss menandai dimulainya periode negosiasi selama 60 hari antara Iran dan Amerika Serikat sebagaimana diatur dalam MoU yang telah disepakati sebelumnya. Dalam kurun waktu tersebut, kedua negara diharapkan dapat merumuskan kesepakatan final untuk mengakhiri konflik secara permanen dan menyelesaikan sejumlah isu strategis yang masih menjadi perdebatan.
Pembahasan mencakup berbagai aspek, mulai dari keamanan kawasan, program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, hingga langkah-langkah membangun kepercayaan antara kedua negara yang selama beberapa dekade memiliki hubungan yang tegang.
Pakistan bersama Qatar memainkan peran penting sebagai mediator dalam proses diplomasi yang menghasilkan kesepakatan awal tersebut. Keterlibatan kedua negara dinilai membantu membuka jalur komunikasi yang konstruktif antara Teheran dan Washington.
Kehadiran Sharif dalam perundingan di Swiss menjadi bagian dari upaya diplomatik Pakistan untuk memastikan proses negosiasi berjalan lancar dan menghasilkan solusi yang dapat diterima semua pihak. Islamabad selama ini mendorong penyelesaian konflik melalui dialog serta mengedepankan pendekatan diplomatik dalam berbagai isu regional.
Pengamat menilai keberhasilan mediasi yang dilakukan Pakistan dan Qatar menunjukkan meningkatnya peran negara-negara kawasan dalam mendukung penyelesaian konflik internasional. Langkah tersebut juga dinilai berpotensi memperkuat stabilitas politik dan ekonomi di Timur Tengah jika kesepakatan final berhasil dicapai.
Meski proses negosiasi masih berada pada tahap awal, pertemuan di Burgenstock dipandang sebagai sinyal positif bagi upaya membangun hubungan yang lebih konstruktif antara Iran dan Amerika Serikat. Dukungan dari negara-negara mediator, termasuk Pakistan, diyakini akan menjadi faktor penting dalam menjaga momentum dialog selama masa perundingan berlangsung.
Dengan komitmen yang terus diperlihatkan oleh para pihak, harapan terhadap terciptanya perdamaian yang lebih berkelanjutan di kawasan kembali menguat, sekaligus membuka peluang bagi peningkatan kerja sama ekonomi dan keamanan regional di masa mendatang.
