Jakarta, lajunetwork.id – Puncak pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 berlangsung di tengah cuaca panas ekstrem di Tanah Suci yang mencapai 44 derajat Celsius. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi jutaan jemaah haji dari berbagai negara, termasuk Indonesia, yang tengah menjalani rangkaian ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Suhu tinggi yang melanda wilayah Arab Saudi diperkirakan terjadi sepanjang fase puncak haji. Otoritas setempat bersama petugas penyelenggara haji dari berbagai negara meningkatkan kesiapsiagaan guna mengantisipasi risiko kesehatan akibat paparan panas berlebih, seperti dehidrasi, kelelahan, hingga heatstroke.
Pemerintah Arab Saudi telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, mulai dari penyediaan titik air minum, fasilitas pendingin udara, pos kesehatan, hingga penyemprotan kabut air di beberapa lokasi utama ibadah haji.
Sementara itu, petugas haji Indonesia terus mengimbau para jemaah untuk menjaga kondisi fisik dan membatasi aktivitas di bawah terik matahari secara langsung, terutama pada siang hari ketika suhu berada pada titik tertinggi.
Jemaah juga diminta memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan pelindung kepala seperti payung atau topi, serta mematuhi jadwal dan arahan petugas demi menghindari gangguan kesehatan selama menjalankan ibadah.
Kementerian Agama sebelumnya menyatakan bahwa faktor cuaca panas menjadi salah satu perhatian utama dalam penyelenggaraan haji tahun ini. Tim kesehatan haji Indonesia pun disiagakan selama 24 jam untuk memberikan layanan medis kepada jemaah yang membutuhkan penanganan.
Puncak ibadah haji dimulai dengan pelaksanaan wukuf di Arafah yang merupakan rukun utama haji, kemudian dilanjutkan dengan mabit di Muzdalifah serta lempar jumrah di Mina.
Meski dihadapkan pada cuaca ekstrem, para jemaah tetap menjalankan ibadah dengan khusyuk. Banyak di antara mereka memilih beristirahat di tenda berpendingin udara saat siang hari untuk mengurangi risiko kelelahan akibat suhu tinggi.
Cuaca panas ekstrem di Arab Saudi sendiri bukan kali pertama terjadi saat musim haji. Dalam beberapa tahun terakhir, perubahan iklim dan peningkatan suhu global membuat otoritas setempat terus memperkuat sistem perlindungan bagi jemaah guna mencegah jatuhnya korban akibat cuaca panas.
