Jakarta, lajunetwork.id – Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) mengecam serangan udara yang menewaskan tiga personel militer Lebanon di wilayah selatan negara itu. Misi penjaga perdamaian PBB tersebut menilai serangan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan Lebanon, integritas wilayah negara, serta ketentuan yang diatur dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701.
Dalam pernyataan resminya yang disampaikan melalui media sosial X pada Sabtu (6/6/2026), UNIFIL menyampaikan belasungkawa kepada Angkatan Bersenjata Lebanon dan keluarga korban yang meninggal dunia akibat serangan di kawasan Nabatieh, Lebanon Selatan.
“Serangan seperti ini di wilayah Lebanon merupakan pelanggaran berat terhadap kedaulatan Lebanon, integritas teritorial, dan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701,” demikian pernyataan UNIFIL.
Pernyataan UNIFIL disampaikan beberapa jam setelah otoritas Lebanon melaporkan bahwa sebuah kendaraan militer menjadi sasaran serangan udara di wilayah selatan negara tersebut. Insiden itu mengakibatkan dua perwira dan satu prajurit Lebanon tewas.
Pemerintah Lebanon langsung mengecam serangan tersebut. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional.
Senada dengan itu, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menilai serangan tersebut sebagai tindakan yang menyasar negara Lebanon dan rakyatnya.
Kecaman dari para pemimpin Lebanon menambah tekanan internasional terhadap situasi keamanan yang kembali memanas di kawasan perbatasan Lebanon-Israel.
Di pihak lain, militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka melakukan serangan terhadap kendaraan yang menjadi sasaran dalam insiden tersebut. Namun, otoritas militer Israel menyatakan masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait kejadian itu.
Israel mengklaim kendaraan tersebut bergerak dengan pola yang dianggap mencurigakan di dekat posisi pasukannya. Menurut pihak militer Israel, area tersebut merupakan lokasi yang sebelumnya terdeteksi adanya aktivitas kelompok Hizbullah.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional mengenai potensi memburuknya situasi keamanan di sepanjang perbatasan kedua negara.
Serangan yang menewaskan personel militer Lebanon terjadi saat gencatan senjata yang rapuh masih berlaku di kawasan tersebut. Kesepakatan penghentian permusuhan yang mulai diterapkan pada April lalu diharapkan dapat meredakan ketegangan setelah serangkaian bentrokan dan serangan lintas perbatasan yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir.
Meski demikian, berbagai insiden keamanan yang terus terjadi menunjukkan bahwa stabilitas di kawasan perbatasan Lebanon-Israel masih berada dalam kondisi rentan.
Komunitas internasional saat ini terus mendorong upaya diplomatik guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas dan menjaga komitmen kedua pihak terhadap penghentian kekerasan.
Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 1701 merupakan landasan utama bagi stabilitas keamanan di Lebanon Selatan sejak berakhirnya perang antara Israel dan Hizbullah pada 2006.
Resolusi tersebut menyerukan penghentian seluruh aksi permusuhan, penghormatan terhadap kedaulatan Lebanon, serta penguatan peran negara dalam menjaga keamanan wilayahnya. Selain itu, resolusi tersebut juga menjadi dasar penempatan UNIFIL untuk membantu memantau situasi keamanan di kawasan perbatasan.
Dengan kembali terjadinya serangan yang menimbulkan korban jiwa dari kalangan militer Lebanon, muncul kekhawatiran bahwa ketegangan yang selama ini berhasil ditekan dapat kembali meningkat dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.
UNIFIL pun mengingatkan seluruh pihak untuk menahan diri dan mematuhi komitmen internasional guna mencegah terjadinya eskalasi yang dapat memperburuk situasi kemanusiaan maupun keamanan regional.
