Jakarta, lajunetwork.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong penguatan kapasitas industri pengolahan susu nasional guna memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproyeksikan meningkat signifikan pada 2026. Pemerintah memperkirakan kebutuhan susu untuk program tersebut mencapai 4,8 miliar kemasan siap minum berukuran 115 hingga 125 mililiter.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria, mengatakan kapasitas produksi industri susu nasional saat ini masih berada di bawah kebutuhan yang diproyeksikan untuk mendukung program prioritas pemerintah tersebut.
“Dari total kebutuhan sekitar 4,8 miliar kemasan susu untuk program MBG tahun 2026, kapasitas industri pengolahan susu nasional saat ini baru mencapai 2,39 miliar kemasan atau sekitar 49,7 persen dari total kebutuhan,” ujar Merrijantij dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara 2026 di Jakarta, Selasa.
Menurutnya, sejumlah pelaku industri telah mulai melakukan ekspansi kapasitas produksi maupun investasi baru guna mendukung pemenuhan kebutuhan susu dalam program MBG. Kemenperin mencatat sedikitnya tiga perusahaan telah mengambil langkah tersebut sebagai bentuk kesiapan menghadapi peningkatan permintaan pada tahun mendatang.
Meski demikian, kapasitas produksi yang tersedia saat ini masih dinilai belum memadai. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong kolaborasi yang lebih luas antara industri pengolahan susu dengan koperasi peternak agar kemampuan produksi nasional dapat meningkat secara berkelanjutan.
Merrijantij menilai keterlibatan koperasi menjadi salah satu kunci dalam memperkuat rantai pasok susu nasional. Selain berperan sebagai pemasok susu segar, koperasi juga didorong untuk mulai terlibat dalam kegiatan pengolahan sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi peternak sekaligus memperluas kapasitas produksi nasional.
“Kami berharap industri pengolahan susu dapat bermitra dengan koperasi dan memberikan pendampingan kepada koperasi yang ingin mengembangkan usaha pengolahan susu untuk mendukung kebutuhan program MBG,” katanya.
Untuk mempercepat peningkatan kapasitas industri, pemerintah juga menjalankan program restrukturisasi industri yang mencakup dukungan bagi pengadaan dan pengembangan fasilitas pengemasan susu siap minum. Program tersebut terbuka bagi industri pengolahan susu maupun koperasi yang ingin mengembangkan unit produksi dan pengemasan.
Melalui skema tersebut, pemerintah memberikan insentif berupa penggantian sebagian biaya investasi. Produk yang memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) berpeluang memperoleh penggantian investasi hingga 35 persen, sedangkan produk dalam negeri lainnya dapat memperoleh insentif hingga 25 persen.
Selain penguatan kapasitas produksi, Kemenperin juga tengah mempercepat digitalisasi rantai pasok susu segar nasional. Saat ini, sebanyak 96 titik pengumpulan susu yang dikelola sembilan koperasi telah terintegrasi dalam program digitalisasi yang dikembangkan pemerintah.
Melalui sistem tersebut, pemerintah dapat memantau ketersediaan pasokan susu segar secara lebih akurat dan real time. Data yang dihimpun dari berbagai lokasi pengumpulan susu diharapkan mampu membantu perencanaan produksi serta distribusi bahan baku ke industri pengolahan.
“Kami sedang menyiapkan aplikasi yang memungkinkan koperasi mengirimkan data secara langsung, sehingga kondisi pasokan susu di berbagai titik pengumpulan dapat dipantau secara real time,” ujar Merrijantij.
Di sisi lain, pemerintah menilai peningkatan kapasitas industri susu perlu diimbangi dengan upaya mendorong konsumsi susu masyarakat. Berdasarkan data World Population Review 2022, konsumsi susu di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan beberapa negara di kawasan Asia Tenggara.
Konsumsi susu masyarakat Indonesia tercatat sekitar 17,76 liter per kapita per tahun. Angka tersebut masih berada di bawah Malaysia yang mencapai 42,49 liter per kapita, Singapura 46,1 liter per kapita, serta Vietnam sebesar 37,21 liter per kapita per tahun.
Merrijantij mengatakan peringatan Hari Susu Nusantara 2026 menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konsumsi susu sebagai bagian dari pemenuhan gizi. Pada saat yang sama, momentum tersebut juga diharapkan dapat memperkuat ekosistem industri susu nasional mulai dari sektor peternakan hingga industri pengolahan.
Menurutnya, peningkatan konsumsi susu dan penguatan industri pengolahan susu merupakan langkah strategis dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas menuju visi Indonesia Emas 2045.
Karena itu, pemerintah bersama pelaku industri akan terus mendorong peningkatan kapasitas produksi, memperluas kemitraan dengan koperasi, serta memperkuat sistem rantai pasok agar kebutuhan susu nasional, termasuk untuk program Makan Bergizi Gratis, dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
