Jakarta, lajunetwork.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor transportasi menjadi salah satu penyumbang inflasi pada Mei 2026, seiring kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan meningkatnya biaya operasional transportasi udara. Kelompok transportasi tercatat mengalami inflasi sebesar 0,61 persen secara bulanan (month to month/mtm) dengan kontribusi terhadap inflasi nasional sebesar 0,07 persen.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa inflasi pada sektor transportasi terutama dipicu oleh naiknya harga sejumlah komoditas dan jasa yang berkaitan langsung dengan aktivitas transportasi masyarakat.
Menurut dia, komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi transportasi meliputi bensin dan tarif angkutan udara yang masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,02 persen. Selain itu, kenaikan harga pelumas atau oli mesin serta solar juga turut berkontribusi dengan andil masing-masing sebesar 0,01 persen.
“Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya harga beberapa jenis BBM nonsubsidi dan harga avtur,” ujar Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Selain faktor BBM, BPS juga mencatat adanya dampak lanjutan dari penyesuaian harga liquefied petroleum gas (LPG) nonsubsidi yang dilakukan PT Pertamina (Persero) pada pertengahan April 2026. Saat itu, harga LPG nonsubsidi mengalami kenaikan sekitar 19 persen mengikuti perkembangan harga energi di pasar global.
Menurut Pudji, penyesuaian tersebut masih tercermin pada tingkat harga yang dibayar konsumen hingga Mei 2026, sehingga ikut memengaruhi perkembangan inflasi pada periode tersebut.
Di sektor transportasi udara, kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur juga menjadi faktor penting yang mendorong peningkatan tarif penerbangan. BPS mencatat harga avtur mengalami kenaikan pada Mei 2026 dibandingkan bulan sebelumnya dan terjadi di berbagai bandara yang melayani penerbangan domestik.
Sementara itu, perkembangan harga komoditas global menunjukkan tren yang beragam. Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) mengalami penurunan pada Mei setelah sebelumnya terus meningkat selama empat bulan berturut-turut sejak awal tahun. Di sisi lain, harga minyak mentah dunia juga terkoreksi setelah mengalami tren kenaikan sejak Januari hingga April 2026.
Secara keseluruhan, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2026 tercatat naik menjadi 111,40 dari posisi 111,09 pada April 2026. Kenaikan tersebut menghasilkan inflasi bulanan sebesar 0,28 persen.
Selain kelompok transportasi, inflasi juga didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi sebesar 0,39 persen dengan andil terbesar terhadap inflasi bulanan, yakni 0,12 persen.
Sejumlah bahan pangan tercatat menjadi pemicu utama kenaikan harga pada kelompok tersebut. Komoditas seperti cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi selama Mei 2026.
Sebaliknya, beberapa komoditas pangan justru membantu menahan laju inflasi. Penurunan harga daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang putih tercatat menjadi faktor yang meredam kenaikan harga secara keseluruhan.
Berdasarkan komponen pembentuk inflasi, komponen inti menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi sebesar 0,22 persen dan andil mencapai 0,14 persen. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 0,52 persen, sedangkan komponen harga bergejolak atau volatile food mencatat inflasi sebesar 0,22 persen.
Dalam skala tahunan (year on year/yoy), BPS mencatat inflasi nasional mencapai 3,08 persen. Angka tersebut diperoleh dari kenaikan IHK dari 108,07 pada Mei 2025 menjadi 111,40 pada Mei 2026.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor terbesar inflasi tahunan dengan tingkat inflasi mencapai 4,94 persen dan andil sebesar 1,43 persen terhadap inflasi nasional.
Jika dilihat dari komponennya, inflasi inti secara tahunan tercatat sebesar 2,59 persen dan memberikan kontribusi terbesar terhadap inflasi keseluruhan dengan andil 1,66 persen. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi tahunan sebesar 2,07 persen dengan andil 0,40 persen.
Adapun komponen harga bergejolak mencatat inflasi tertinggi secara tahunan, yakni 6,24 persen, dengan kontribusi sebesar 1,02 persen terhadap laju inflasi nasional.
Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga pada Mei 2026 masih dipengaruhi oleh kombinasi faktor energi, biaya transportasi, dan harga pangan. Meski inflasi masih berada dalam rentang yang terkendali, perkembangan harga energi dan komoditas global tetap menjadi faktor yang perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi stabilitas harga pada bulan-bulan berikutnya.
