Jakarta – FIFA resmi memperluas hukuman terhadap winger muda Argentina, Gianluca Prestianni, menyusul kasus diskriminasi terhadap bintang Vinicius Junior. Keputusan tersebut membuat pemain milik Benfica itu terancam absen dalam dua pertandingan awal Argentina di FIFA World Cup 2026 jika masuk skuad final Albiceleste.
Argentina sendiri datang ke Piala Dunia 2026 dengan status juara bertahan. Publik menilai turnamen tersebut bisa menjadi panggung terakhir bagi Lionel Messi di level internasional.
Namun, di tengah munculnya generasi muda berbakat Argentina, nama Prestianni justru tersandung kontroversi. Pemain berusia 20 tahun itu sebelumnya terlibat insiden saat membela Benfica menghadapi Real Madrid di Liga Champions pada Februari lalu.
Awalnya, Vinicius menuduh Prestianni melakukan pelecehan rasial. Akan tetapi, hasil investigasi UEFA kemudian menyimpulkan bahwa Prestianni terbukti melontarkan ujaran homofobik kepada winger asal Brasil tersebut. UEFA pun menjatuhkan hukuman larangan bermain enam pertandingan, dengan tiga laga di antaranya bersifat percobaan selama dua tahun.
Hukuman itu semula hanya berlaku di kompetisi UEFA. Namun, FIFA akhirnya menerima permintaan UEFA untuk memperluas sanksi tersebut agar berlaku secara global di seluruh kompetisi resmi sepak bola.
Akibat keputusan tersebut, Prestianni bukan hanya absen di sisa laga kompetisi Eropa bersama Benfica, tetapi juga terancam tidak bisa tampil dalam dua laga awal Argentina di fase grup Piala Dunia 2026 jika dipanggil oleh pelatih Lionel Scaloni.
Argentina dijadwalkan menghadapi Aljazair dan Austria dalam dua pertandingan pertama fase grup. Situasi ini pun memunculkan keraguan terkait peluang Prestianni masuk skuad final Argentina mengingat minimnya pengalaman internasional sang pemain. Hingga kini, ia baru sekali tampil bersama tim senior Argentina dalam laga persahabatan melawan Angola.
Kasus antara Prestianni dan Vinicius juga memicu perubahan aturan di sepak bola internasional. Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) disebut telah menyetujui usulan FIFA untuk memberi perhatian khusus terhadap pemain yang menutupi mulut saat berkonfrontasi di lapangan.
Tindakan tersebut nantinya dapat berujung kartu merah apabila dianggap digunakan untuk menyembunyikan ujaran diskriminatif selama pertandingan.
