Jakarta, lajunetwork.id – Kementerian Sosial (Kemensos) terus memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui program Sekolah Rakyat.
Program ini dirancang untuk memberikan kesempatan belajar yang layak bagi anak-anak dari keluarga miskin hingga miskin ekstrem agar dapat mengenyam pendidikan tanpa terbebani keterbatasan ekonomi.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, mengatakan Sekolah Rakyat menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memastikan anak-anak dari kelompok masyarakat prasejahtera memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih baik.
Menurut Gus Ipul, penerimaan siswa Sekolah Rakyat mengacu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya keluarga yang masuk dalam Desil 1 dan Desil 2.
Kedua kelompok tersebut merupakan bagian dari lapisan masyarakat dengan tingkat kesejahteraan sosial ekonomi terbawah.
Oleh karena itu, seleksi calon siswa tidak didasarkan pada tes akademik, melainkan pada kondisi sosial ekonomi keluarga yang telah melalui proses verifikasi. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menjangkau anak-anak yang paling membutuhkan dukungan pendidikan.
“Basisnya adalah DTSEN, yaitu keluarga pada Desil 1 dan Desil 2 yang secara sosial ekonomi berada pada kondisi paling bawah atau prasejahtera.
Karena tidak menggunakan tes akademik, maka diperlukan proses adaptasi agar mereka siap mengikuti pembelajaran di Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul, dikutip dari situs resmi Kemensos, Sabtu (24/10/2026).
Berdasarkan data Kemensos per Juli 2026, program Sekolah Rakyat telah menjaring 28.478 siswa baru dari keluarga kurang mampu untuk tahun ajaran 2026/2027.
Jumlah tersebut terdiri atas 6.305 siswa jenjang sekolah dasar (SD), 11.186 siswa sekolah menengah pertama (SMP), dan 11.077 siswa sekolah menengah atas (SMA).
Penerimaan puluhan ribu siswa tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas jangkauan layanan pendidikan, terutama bagi anak-anak yang berisiko kehilangan kesempatan bersekolah akibat keterbatasan ekonomi keluarga.
Selain memperluas penerimaan siswa, pemerintah juga memperkuat infrastruktur pendukung program. Dalam kurun waktu satu tahun, sebanyak 93 Sekolah Rakyat permanen telah dibangun dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Pembangunan fasilitas pendidikan itu direncanakan terus berlanjut. Pemerintah menargetkan setiap kabupaten dan kota memiliki setidaknya satu Sekolah Rakyat agar akses terhadap program tersebut semakin merata.
Melalui pengembangan program ini, Kemensos berupaya menjadikan pendidikan sebagai salah satu jalan untuk memutus rantai kemiskinan.
Anak-anak dari keluarga prasejahtera diharapkan dapat mengembangkan kemampuan, meningkatkan kualitas hidup, dan memiliki peluang lebih besar untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Dampak program Sekolah Rakyat juga tercermin dari pengalaman Citra Nur Ramadhani, seorang siswa asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.
Citra sempat menghadapi risiko putus sekolah setelah ayahnya meninggal dunia. Dalam kondisi tersebut, ia harus membantu ibunya berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Situasi itu menggambarkan tantangan yang dihadapi sebagian anak dari keluarga kurang mampu, ketika kebutuhan ekonomi rumah tangga berpotensi menghambat keberlanjutan pendidikan mereka.
Kehadiran Sekolah Rakyat membuka kesempatan bagi Citra untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan potensi dirinya. Program ini diharapkan dapat membantu anak-anak dengan kondisi serupa agar tetap memiliki akses terhadap pembelajaran dan kesempatan meraih cita-cita.
Pengalaman Citra menjadi gambaran pentingnya dukungan pendidikan bagi keluarga prasejahtera. Namun, keberlanjutan manfaat program juga bergantung pada dukungan pembelajaran, pendampingan siswa, serta pemenuhan kebutuhan pendidikan secara konsisten.
Sebagai bagian dari peringatan satu tahun perjalanan program Sekolah Rakyat, Kemensos dijadwalkan menggelar acara bertajuk Peresmian 100 Gedung Sekolah Rakyat di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 28 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk memperkuat pelaksanaan program sekaligus memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Pengembangan Sekolah Rakyat diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah siswa yang memperoleh layanan pendidikan, tetapi juga memperkuat pemerataan kesempatan belajar di berbagai wilayah.
Melalui program ini, pemerintah menargetkan semakin banyak anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem dapat melanjutkan pendidikan, mengembangkan keterampilan, serta memperoleh peluang untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.
Dengan perluasan fasilitas dan penerimaan siswa, Sekolah Rakyat menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menghubungkan kebijakan perlindungan sosial dengan akses pendidikan.
Keberhasilan program tersebut selanjutnya perlu ditopang oleh kualitas pembelajaran, ketersediaan tenaga pendidik, serta pemantauan hasil pendidikan para siswa.
