Jakarta — Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan bahwa realisasi belanja negara pada triwulan I 2026 menunjukkan akselerasi signifikan. Hingga akhir Maret 2026, belanja negara tercatat mencapai Rp815 triliun atau tumbuh 31,4 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Dalam keterangannya di Kantor Pusat Bank Indonesia, Senin, Juda menekankan bahwa laju realisasi belanja tahun ini jauh lebih cepat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Di triwulan I ini, belanja sudah mencapai 21,2 persen dari target APBN. Bandingkan dengan tahun lalu yang hanya 17,1 persen, dengan pertumbuhan hanya 1,4 persen,” ujarnya.
Secara rinci, belanja pemerintah pusat mencapai Rp610,3 triliun atau setara 19,4 persen dari target APBN, dengan pertumbuhan tinggi sebesar 47,7 persen (yoy). Sementara itu, transfer ke daerah terealisasi Rp204,8 triliun atau 29,5 persen dari target APBN, namun mengalami kontraksi tipis sebesar 1,1 persen (yoy).
Di sisi penerimaan, pendapatan negara tercatat sebesar Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen (yoy), setara 18,2 persen dari target APBN. Penerimaan perpajakan menjadi kontributor utama dengan nilai Rp462,7 triliun (17,2 persen dari target), tumbuh 14,3 persen (yoy). Adapun Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp112,1 triliun (24,4 persen dari target), meskipun mengalami penurunan 3 persen (yoy).
Dengan perkembangan tersebut, defisit APBN hingga triwulan I 2026 tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Selain itu, Juda menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I 2026 diperkirakan mencapai 5,5 persen (yoy). Ia optimistis target tersebut dapat tercapai seiring percepatan belanja pemerintah serta membaiknya indikator konsumsi domestik, termasuk yang tercermin dalam Mandiri Spending Index (MSI).
Lebih lanjut, peningkatan signifikan juga terlihat pada penerimaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) yang melonjak 57,7 persen (yoy) menjadi Rp155,6 triliun. Hal ini dinilai mencerminkan penguatan aktivitas ekonomi, baik dari sisi konsumsi masyarakat maupun transaksi dunia usaha.
“Tren penguatan memang terjadi sejak September di triwulan IV tahun lalu. Memang di bulan Maret ada sedikit pelemahan, terutama pada ekspektasi kondisi ekonomi ke depan, yang saya kira dipengaruhi oleh dampak perang di Timur Tengah,” pungkas Juda.
