Jakarta, lajunetwork.id – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Teheran mengklaim telah menyerang sebuah kapal perang milik AS yang disebut berfungsi sebagai pusat kendali dan komando militer di kawasan Selat Hormuz.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melalui Kantor Hubungan Masyarakatnya menyatakan serangan tersebut dilakukan pada Selasa malam waktu setempat menggunakan proyektil udara. Menurut keterangan IRGC, serangan itu menargetkan kapal yang mereka identifikasi sebagai kapal musuh Amerika-Zionis bernama Panaya.
Dalam pernyataannya yang dikutip media Iran, Tasnim, IRGC mengklaim serangan tersebut menyebabkan kerusakan pada area ruang mesin kapal.
“Sebagai respons atas agresi dan pelanggaran aturan di Selat Hormuz, sebuah kapal musuh Amerika-Zionis bernama Panaya menjadi sasaran rudal yang ditembakkan oleh Angkatan Laut IRGC,” demikian pernyataan yang disampaikan Kantor Humas IRGC.
Iran menyebut tindakan itu dilakukan sebagai balasan atas serangan yang sebelumnya dilancarkan AS terhadap menara komunikasi milik IRGC di bagian selatan Pulau Qeshm. Teheran juga menegaskan bahwa setiap serangan terhadap wilayah atau aset Iran akan mendapat respons yang lebih besar.
IRGC memperingatkan bahwa upaya mengganggu keamanan di Selat Hormuz dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi militer Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan tersebut.
“Kami menegaskan kembali bahwa mengganggu keamanan Selat Hormuz akan membawa konsekuensi berat bagi militer AS yang agresif,” lanjut pernyataan itu.
Namun, klaim Iran langsung dibantah oleh Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), yang bertanggung jawab atas operasi militer AS di kawasan Timur Tengah. CENTCOM menyatakan tidak ada aset militer AS yang terkena serangan sebagaimana yang diklaim oleh Iran.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X pada Kamis (4/6), CENTCOM menyebut tuduhan tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
“Iran berbohong. Aset militer AS di laut terus terbang, berlayar, dan beroperasi dengan aman dan tanpa hambatan,” tulis CENTCOM.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya konfrontasi antara kedua negara di perairan sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik penting perdagangan energi dunia.
Rangkaian aksi saling serang dalam beberapa waktu terakhir juga disebut berdampak pada fasilitas sipil di kawasan. Salah satunya adalah insiden yang menghantam Bandara Kuwait. Iran menuding bandara tersebut terkena rudal pencegat milik AS, sementara Washington membantah tuduhan tersebut.
Sebaliknya, CENTCOM mengeklaim bahwa serangan terhadap bandara itu dilakukan oleh Iran secara sengaja dan telah direncanakan sebelumnya.
Perbedaan versi antara kedua pihak menunjukkan semakin tajamnya perseteruan yang berpotensi memperburuk stabilitas keamanan di kawasan Teluk. Hingga saat ini, belum ada verifikasi independen yang dapat memastikan klaim maupun bantahan dari masing-masing pihak terkait insiden terbaru di Selat Hormuz tersebut.
