Jakarta, lajunetwork.id – Presiden China Xi Jinping dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Korea Utara selama dua hari mulai Senin (8/6/2026). Kunjungan tersebut menjadi lawatan pertama Xi ke Pyongyang dalam tujuh tahun terakhir sekaligus menandai perjalanan luar negeri pertamanya pada tahun ini.
Kunjungan dilakukan atas undangan langsung Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un dan dipandang sebagai momentum penting dalam mempererat hubungan strategis kedua negara yang selama puluhan tahun dikenal sebagai sekutu dekat di kawasan Asia Timur.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengatakan Xi akan menggelar pertemuan dengan Kim Jong Un untuk membahas berbagai isu bilateral maupun perkembangan situasi regional dan global dikutip dari ANTARA (07/6/2026).
Menurut Mao, kunjungan tersebut bertujuan memperdalam hubungan persahabatan tradisional antara kedua negara, memperkuat kerja sama pembangunan, serta berkontribusi terhadap stabilitas dan perdamaian kawasan.
“China berharap kunjungan ini dapat semakin mempererat hubungan bilateral sekaligus memberikan kontribusi positif bagi perdamaian, stabilitas, pembangunan, dan kemakmuran kawasan maupun dunia,” ujar Mao.
Kunjungan Xi ke Pyongyang memiliki nilai simbolis dan strategis yang tinggi. Terakhir kali Presiden China itu mengunjungi Korea Utara pada 2019, menjadikannya pemimpin China pertama dalam 14 tahun yang melakukan kunjungan resmi ke negara tersebut.
Sebelumnya, Xi juga pernah berkunjung ke Pyongyang pada 2008 saat masih menjabat Wakil Presiden China dan bertemu dengan Kim Jong Il, ayah dari Kim Jong Un.
Hubungan personal antara Xi dan Kim juga terus terjalin dalam beberapa tahun terakhir. Pertemuan terakhir keduanya berlangsung pada September 2025 ketika Kim menghadiri parade militer di Beijing dalam rangka peringatan 80 tahun Hari Kemenangan China.
Kunjungan Xi berlangsung di tengah perubahan signifikan dalam dinamika geopolitik kawasan. Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian internasional adalah semakin eratnya hubungan antara Korea Utara dan Rusia.
Pada 2024, Pyongyang dan Moskow menandatangani Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif yang mencakup komitmen kerja sama pertahanan bersama. Kesepakatan tersebut memperkuat posisi Korea Utara dalam percaturan politik internasional dan memicu perhatian sejumlah negara Barat.
Di saat yang sama, China juga terus memainkan peran sentral dalam berbagai isu global. Bulan lalu, Xi Jinping menerima kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam agenda terpisah di Beijing.
Pertemuan dengan kedua pemimpin dunia tersebut semakin mempertegas posisi China sebagai salah satu aktor utama dalam diplomasi internasional.
Salah satu isu yang diperkirakan akan menjadi perhatian dalam pertemuan Xi dan Kim adalah program nuklir Korea Utara.
Setelah pertemuan Xi dengan Presiden Donald Trump, Gedung Putih menyatakan kedua pemimpin menegaskan kembali komitmen terhadap tujuan denuklirisasi Semenanjung Korea. Namun hingga kini, pemerintah China belum mengungkapkan secara rinci isi pembahasan terkait isu tersebut.
Beijing hanya menegaskan bahwa mereka terus berupaya mendorong penyelesaian politik terhadap persoalan nuklir Korea Utara melalui jalur dialog dan diplomasi.
Di sisi lain, Pyongyang tetap menunjukkan sikap tegas mengenai status nuklirnya. Kim Yo-jong, adik perempuan Kim Jong Un yang memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan Korea Utara, menegaskan bahwa status negaranya sebagai negara bersenjata nuklir tidak dapat diubah dan tidak menjadi bahan negosiasi.
Pernyataan tersebut memperkuat sikap Kim Jong Un yang sebelumnya berjanji akan meningkatkan kemampuan nuklir negaranya secara signifikan serta menegaskan bahwa status nuklir Korea Utara bersifat permanen.
Waktu pelaksanaan kunjungan Xi juga memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pengamat internasional. Sejumlah pihak menilai Beijing berpotensi memainkan peran sebagai jembatan komunikasi antara Washington dan Pyongyang di tengah hubungan yang masih penuh ketegangan.
Meski belum ada indikasi resmi mengenai agenda tersebut, posisi China sebagai mitra utama Korea Utara menjadikannya salah satu negara yang memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan Pyongyang.
Selain aspek politik dan keamanan, hubungan ekonomi menjadi salah satu pilar utama kerja sama kedua negara.
China masih menjadi mitra dagang terbesar sekaligus penopang utama perekonomian Korea Utara. Nilai perdagangan bilateral tercatat mencapai 2,79 miliar dolar Amerika Serikat sepanjang 2025, meningkat signifikan dan mendekati level sebelum pandemi COVID-19.
Normalisasi hubungan ekonomi juga terlihat dari kembali beroperasinya layanan kereta penumpang lintas negara pada Maret 2026 setelah sempat terhenti selama enam tahun. Selain itu, penerbangan langsung antara kedua ibu kota juga telah kembali dilayani oleh Air China.
Kunjungan Xi Jinping juga bertepatan dengan peringatan 65 tahun Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Timbal Balik China-Korea Utara yang ditandatangani pada 1961.
Perjanjian tersebut hingga kini menjadi satu-satunya pakta pertahanan resmi yang dimiliki China dengan negara lain, mencerminkan kedekatan hubungan strategis kedua negara.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, kunjungan Xi ke Pyongyang dipandang sebagai sinyal kuat bahwa Beijing dan Pyongyang berkomitmen mempertahankan serta memperkuat kemitraan yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Dengan kombinasi kepentingan politik, keamanan, dan ekonomi yang semakin erat, pertemuan Xi Jinping dan Kim Jong Un diperkirakan akan menjadi salah satu agenda diplomatik paling penting di kawasan Asia pada tahun 2026.
