Jakarta,lajunetwok.id – Wakil Ketua MPR RI, M. Hidayat Nur Wahid, menyambut positif tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Ia mendorong seluruh pihak yang terlibat untuk menjalankan komitmen perdamaian tersebut secara konsisten demi menjaga stabilitas global dan mencegah terjadinya krisis berkepanjangan.
Dalam keterangan tertulis yang disampaikan di Jakarta, Jumat, Hidayat menilai keberhasilan proses perdamaian yang dimediasi oleh Pakistan, Qatar, dan Arab Saudi patut mendapat apresiasi. Menurutnya, langkah diplomatik tersebut membuka peluang besar untuk meredakan ketegangan di kawasan yang selama ini berpotensi memengaruhi kondisi politik dan ekonomi dunia.
“Kita tentu berterima kasih dan mengapresiasi tinggi prakarsa Pakistan, Qatar dan Arab Saudi yang efektif bergerak sehingga naskah perdamaian bisa disetujui dan ditandatangani,” ujar Hidayat.
Meski demikian, ia menekankan bahwa keberhasilan sesungguhnya terletak pada implementasi kesepakatan tersebut.
Menurutnya, seluruh pihak perlu memastikan bahwa perjanjian damai tidak berhenti pada tahap penandatanganan, tetapi benar-benar dijalankan sesuai komitmen yang telah disepakati bersama. Hidayat menilai konsistensi dalam pelaksanaan perjanjian menjadi faktor penting untuk menghindari dampak negatif yang lebih luas, termasuk ancaman terhadap perekonomian global.
Ia menyoroti pentingnya stabilitas jalur perdagangan energi internasional yang selama ini terdampak oleh meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Salah satu dampak positif yang diharapkan dari meredanya konflik adalah kembali normalnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menekan harga minyak dunia yang dalam beberapa waktu terakhir memberikan tekanan bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
“Dengan dibukanya kembali Selat Hormuz, penting juga bisa segera menurunkan harga minyak dunia yang sangat membebani banyak negara, termasuk Indonesia,” katanya.
Lebih lanjut, Hidayat berharap berakhirnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dapat menjadi momentum bagi komunitas internasional untuk kembali memusatkan perhatian pada penyelesaian konflik kemanusiaan di Gaza dan Palestina.
Ia mengingatkan bahwa meskipun isu Gaza tidak tercantum secara langsung dalam kesepakatan damai tersebut, dunia internasional tidak boleh mengabaikan penderitaan warga sipil yang masih berlangsung akibat konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.
“Memang Gaza/Palestina tidak disebut dalam perjanjian tersebut, tetapi penting diingatkan, dengan berhentinya perang AS versus Iran itu maka perjanjian damai yang hentikan tragedi di Gaza/Palestina penting segera bisa diwujudkan juga,” ujarnya.
Menurut Hidayat, upaya menciptakan perdamaian yang berkelanjutan di kawasan Timur Tengah harus mencakup perlindungan terhadap warga sipil, penghormatan terhadap hukum internasional, serta dukungan terhadap penyelesaian konflik yang adil bagi semua pihak.
Ia juga mendorong pemerintah Indonesia untuk terus memainkan peran aktif dalam diplomasi internasional sesuai amanat konstitusi, khususnya dalam mendukung perdamaian dunia dan perjuangan kemerdekaan Palestina.
“Pemerintah Indonesia juga bisa terus memainkan peran penting politik luar negerinya untuk terciptanya perdamaian dunia dan merdekanya Palestina, di samping tetap fokus mengatasi masalah-masalah domestik di Indonesia,” kata Hidayat.
Hidayat berharap kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran dapat diimplementasikan secara efektif sehingga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap stabilitas kawasan, pemulihan ekonomi global, serta terciptanya perdamaian yang lebih luas di tingkat internasional.
