Padang, lajunetwork.id – Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyatakan capaian implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan rata-rata kawasan Asia Pasifik maupun tingkat global. Meski demikian, pemerintah masih menghadapi sejumlah tantangan besar, terutama dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sekaligus Kepala Sekretariat Nasional SDGs Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, saat memberikan paparan di Kota Padang, Senin.
Menurut Pungkas, tingkat pencapaian indikator SDGs Indonesia saat ini telah mencapai sekitar 62 persen. Angka tersebut jauh melampaui rata-rata capaian global maupun kawasan Asia Pasifik yang masing-masing baru berada pada kisaran 18 persen.
“Sebenarnya target SDGs kita sudah cukup baik kalau dibandingkan dengan catatan global. Global itu capaiannya 18 persen dan Asia Pasifik juga 18 persen,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dari keseluruhan indikator SDGs, sebanyak 13 indikator menunjukkan perkembangan positif. Namun, sekitar 24 persen indikator lainnya masih berada dalam kategori merah atau memerlukan perhatian serius agar target pembangunan berkelanjutan dapat tercapai sesuai rencana.
Capaian tersebut turut berdampak pada peningkatan posisi Indonesia dalam peringkat SDGs dunia. Saat ini Indonesia menempati peringkat ke-77 dari 167 negara, meningkat 25 peringkat dibandingkan posisi pada 2019.
Dalam paparannya, Pungkas menyebut sejumlah indikator yang menunjukkan kemajuan signifikan, di antaranya meningkatnya akses masyarakat terhadap listrik dan layanan energi, pengelolaan ekosistem laut yang semakin baik, serta penguatan kemitraan yang mendukung implementasi pembangunan berkelanjutan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tujuan pertama SDGs, yaitu mengakhiri kemiskinan, masih menjadi tantangan terbesar yang harus segera ditangani. Berbagai persoalan seperti ketahanan pangan, stunting, hingga praktik perdagangan orang masih menjadi isu yang membutuhkan perhatian lintas sektor.
Selain memaparkan kondisi nasional, Pungkas juga menyoroti sejumlah tantangan pembangunan berkelanjutan di Provinsi Sumatera Barat dan wilayah Pulau Sumatera secara umum. Menurutnya, persoalan kemiskinan, stunting, angka kematian ibu, angka kematian bayi, akses terhadap pendidikan menengah dan perguruan tinggi, serta perlindungan terhadap perempuan masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan bersama.
Di bidang ekonomi, pemerintah juga masih menghadapi tantangan berupa tingginya jumlah tenaga kerja informal, tingkat pengangguran, ketimpangan pembangunan antarwilayah, serta kebutuhan pembiayaan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Sementara itu, pada sektor lingkungan hidup, berbagai persoalan masih memerlukan penanganan yang lebih serius. Isu penyediaan air minum yang aman, kualitas hunian, pengelolaan sampah, limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), pengendalian emisi gas rumah kaca, hingga mitigasi risiko bencana menjadi bagian dari agenda yang terus didorong dalam implementasi SDGs.
Bappenas menilai kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci untuk mempercepat pencapaian seluruh target SDGs. Dengan sinergi yang kuat, Indonesia diharapkan mampu mempertahankan tren positif sekaligus menyelesaikan berbagai tantangan pembangunan demi mewujudkan kesejahteraan yang inklusif dan berkelanjutan.
