Jakarta, lajunetwork.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif selama periode Januari hingga Mei 2026 masih mencatat surplus sebesar 4,03 miliar dolar AS. Meski demikian, pada Mei 2026 Indonesia mengalami defisit perdagangan bulanan akibat lonjakan impor yang melampaui nilai ekspor.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa sepanjang lima bulan pertama tahun ini nilai ekspor Indonesia mencapai 115,36 miliar dolar AS, sedangkan impor tercatat sebesar 111,33 miliar dolar AS. Selisih keduanya menghasilkan surplus perdagangan sebesar 4,03 miliar dolar AS.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, Ateng mengatakan kinerja ekspor kumulatif tersebut tumbuh 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).
Menurutnya, sektor industri pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap peningkatan ekspor nasional dengan pertumbuhan sebesar 5,38 persen. Kinerja sektor manufaktur dinilai masih menjadi penopang utama ekspor Indonesia di tengah dinamika perdagangan global.
Di sisi lain, nilai impor selama Januari hingga Mei 2026 meningkat cukup signifikan, yakni sebesar 15,24 persen secara tahunan. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh meningkatnya impor bahan baku dan barang penolong yang memberikan andil terbesar, yakni 10,35 persen.
Peningkatan impor bahan baku tersebut mencerminkan masih tingginya kebutuhan industri dalam negeri terhadap pasokan input produksi untuk mendukung aktivitas manufaktur dan sektor usaha lainnya.
Sementara itu, untuk kinerja perdagangan pada Mei 2026, Indonesia mencatat defisit neraca perdagangan sebesar 1,61 miliar dolar AS. Pada bulan tersebut, nilai ekspor tercatat sebesar 23,20 miliar dolar AS, sedangkan impor mencapai 24,81 miliar dolar AS.
Ateng mengungkapkan bahwa nilai ekspor Mei 2026 mengalami penurunan 5,73 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, impor justru meningkat tajam hingga 22,16 persen secara tahunan.
Kondisi tersebut menyebabkan nilai impor melampaui ekspor sehingga Indonesia membukukan defisit perdagangan pada bulan Mei, meskipun secara kumulatif sepanjang Januari hingga Mei 2026 neraca perdagangan nasional masih berada di zona surplus.
BPS menilai perkembangan ekspor dan impor pada periode tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih ditopang oleh meningkatnya kebutuhan bahan baku industri. Namun, perlambatan ekspor pada Mei menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kinerja perdagangan apabila tren tersebut berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.
