Semarang, lajunetwork.id – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat uji coba kedua sistem transaksi tol nontunai nirsentuh nirhenti atau Multi Lane Free Flow (MLFF) sebelum memasuki tahap semikomersial jika pengujian dinyatakan berhasil.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan uji coba kedua diperlukan karena pengujian sebelumnya belum menghasilkan kesimpulan mengenai keberhasilan penerapan sistem MLFF.
“MLFF itu lagi dipercepat untuk uji coba kedua. Uji coba pertama kan enggak konklusif. Gagal enggak, sukses juga enggak,” kata Dody di Semarang, Jawa Tengah, Minggu.
Menurut Dody, keberhasilan uji coba kedua akan menjadi dasar untuk melanjutkan penerapan MLFF ke tahap semikomersial.
“Kalau uji coba kedua sukses, kita masuk ke setengah komersial,” ujarnya.
Pada tahap tersebut, sistem akan diuji dalam kondisi yang lebih mendekati pengoperasian sebenarnya melalui pemasangan perangkat di sejumlah titik.
“Setengah komersialnya baru kita tes benar-benar. Nanti kita akan meng-install beberapa titik,” kata Dody.
Dia menjelaskan pengujian dilakukan untuk memastikan teknologi yang digunakan mampu menerapkan konsep MLFF, yakni memungkinkan transaksi tol berlangsung tanpa kendaraan harus berhenti di gerbang tol.
Dody mengatakan Kementerian PU tetap menjalankan proses pengembangan MLFF sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Namun, kementerian berupaya mempercepat setiap tahapan pengujian.
“Saya cuma mengikuti kontrak. Saya mengikuti kontrak saja, enggak lebih, enggak kurang. Tugas saya mempercepat agar prosesnya itu lebih cepat,” ujarnya.
Sebelumnya, pada 12 Agustus 2026, Dody mengatakan uji coba ulang MLFF direncanakan berlangsung di dua lokasi. Salah satunya berada di Bali, sedangkan lokasi lainnya masih dibahas bersama para pemangku kepentingan.
Kementerian PU pada Juni 2026 mencatat transaksi di gerbang tol mencapai sekitar 4 juta transaksi per hari.
Sistem MLFF menggunakan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS). Transaksi dilakukan melalui aplikasi Cantas yang terintegrasi dengan data Electronic Registration and Identification (ERI) milik Korlantas Polri.
Dalam daftar proyek nasional Direktorat Jenderal Pembiayaan Infrastruktur PU, Sistem Transaksi Non-Tunai Berbasis MLFF/GNSS tercatat sebagai proyek berskala nasional dengan nilai Rp1,12 triliun.
