Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan dua satelit generasi terbaru guna memperkuat sistem peringatan dini bencana dan observasi Bumi di Indonesia.
Perekayasa Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Nur Salma Yusuf Hasanah, mengungkapkan bahwa salah satu satelit yang sedang dikembangkan adalah Nusantara Earth Observation-1 (NEO-1). Satelit ini dirancang dengan berbagai teknologi canggih, termasuk kamera multispektral beresolusi tinggi, sensor magnetometer untuk mengukur medan magnet, serta sistem komunikasi data.
“Mudah-mudahan dapat segera diluncurkan,” ujar Salma saat menerima kunjungan Sekolah Alam Bogor di Kawasan Sains Ibnoe Soebroto, Rancabungur, Bogor, Kamis (30/4), seperti dikutip dari laman resmi BRIN.
Selain NEO-1, BRIN juga mengembangkan satelit kedua bernama Nusantara Equatorial IoT (NEI). Satelit ini difokuskan untuk mendukung sistem peringatan dini bencana dengan mengumpulkan data dari berbagai sensor, seperti sistem peringatan tsunami, cuaca, dan gempa bumi. NEI juga akan mendukung komunikasi kebencanaan serta pemantauan maritim dan penerbangan.
Salma menjelaskan, perbedaan utama NEI dibandingkan satelit sebelumnya terletak pada desainnya yang berbentuk konstelasi, bukan satelit tunggal.
“Satelit ini akan dirancang dalam bentuk konstelasi untuk memantau wilayah Indonesia secara waktu nyata tanpa jeda. Harapannya, terdapat sekitar 10 satelit yang mengorbit di wilayah ekuatorial,” jelasnya.
Pengembangan kedua satelit ini merupakan kelanjutan dari program satelit nasional sebelumnya. Indonesia diketahui telah meluncurkan tiga satelit dari seri LAPAN, yakni A1 pada 2007, A2 pada 2015, dan A3 pada 2016. Ketiganya dimanfaatkan untuk observasi Bumi, pemantauan maritim, komunikasi satelit, serta eksperimen teknologi.
Untuk mendukung operasional satelit-satelit tersebut, BRIN saat ini mengoperasikan empat stasiun bumi yang berlokasi di Agam, Bogor, Parepare, dan Biak.
