Jakarta – Aliansi pertahanan Atlantik Utara, NATO, merespons rencana Amerika Serikat (AS) yang akan menarik sekitar 5.000 personel militernya dari Jerman dengan meningkatkan komunikasi dan koordinasi intensif bersama Washington.
Juru bicara NATO, Allison Hart, menyatakan pihaknya saat ini tengah bekerja sama dengan pemerintah AS untuk memahami secara rinci kebijakan tersebut, terutama terkait perubahan postur kekuatan militer AS di kawasan Eropa.
“Kami sedang bekerja sama dengan AS untuk memahami detail keputusan mereka mengenai postur kekuatan di Jerman,” ujar Hart, dikutip dari CNN Indonesia melalui platform X, Sabtu (2/5), sebagaimana dilaporkan Anadolu Agency.
Hart menilai langkah Washington tersebut menjadi sinyal penting bagi negara-negara Eropa agar tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kekuatan militer AS. Ia menekankan bahwa peningkatan investasi di sektor pertahanan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan keamanan kolektif di kawasan.
Menurutnya, negara-negara Eropa perlu mengambil peran yang lebih besar dalam tanggung jawab pertahanan, meskipun NATO tetap optimistis terhadap kapasitas aliansi dalam mewujudkan “Eropa yang lebih kuat dalam NATO yang lebih kuat.”
Di sisi lain, keputusan Pentagon ini tidak terlepas dari dinamika politik yang memanas antara Presiden AS Donald Trump dan Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Sebelumnya, Merz melontarkan kritik tajam terhadap strategi militer AS dalam konflik dengan Iran. Ia menilai pendekatan Washington tidak memiliki “strategi keluar” yang jelas, bahkan menyebut AS tengah “dipermalukan” oleh Iran dalam berbagai perundingan.
Menanggapi kritik tersebut, Trump menyatakan pihaknya sedang mengevaluasi kemungkinan pengurangan kehadiran militer AS di Jerman. Langkah ini dinilai mencerminkan meningkatnya ketegangan dalam hubungan transatlantik, khususnya di dalam NATO terkait kebijakan terhadap Teheran.
Penarikan pasukan ini dipandang sebagai babak baru dalam hubungan antara AS dan Eropa pada 2026, di tengah dorongan kuat bagi negara-negara Eropa untuk mempercepat penguatan serta modernisasi kemampuan militer mereka secara mandiri.
