Jakarta, lajunetwork.id – PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) mengalihkan fokus strategi pendanaannya dengan memperbesar porsi dana murah atau current account saving account (CASA) guna menekan biaya dana (cost of fund atau CoF). Perseroan menargetkan rasio CASA meningkat hingga sekitar 30 persen, bahkan dalam jangka panjang diharapkan dapat mencapai kisaran 40 persen.
Direktur Utama Bank Mandiri Taspen Panji Irawan mengatakan selama hampir 11 tahun terakhir perseroan lebih mengandalkan deposito sebagai sumber pendanaan utama. Strategi tersebut dinilai cukup mendukung pertumbuhan kredit pensiunan sekaligus menghasilkan margin yang memadai sehingga penghimpunan giro dan tabungan belum menjadi prioritas.
Namun, dalam sekitar tujuh bulan terakhir, Bank Mantap mulai mengubah arah strategi dengan memperkuat penghimpunan dana murah melalui giro dan tabungan.
“Pada prinsipnya, kalau kita membesarkan tabungan dan giro dengan bunga lebih sedikit saja lebih mahal dibandingkan dengan yang ada di pasar, tapi lebih murah dari kami punya deposito, saya yakin cost of fund-nya akan turun,” ujar Panji di Ubud, Bali, Sabtu.
Menurut dia, langkah tersebut didukung penguatan layanan digital yang menjadi salah satu kanal utama untuk menarik dana masyarakat. Perseroan mengoptimalkan aplikasi Movin, layanan transaksi QRIS, serta Mantap Cash Management (MCM) guna memperluas basis nasabah sekaligus meningkatkan penghimpunan dana murah.
Strategi itu sempat membuahkan hasil dengan menurunnya biaya dana hingga mencapai sekitar 4,02 persen atau mendekati level terendah dalam sejarah perusahaan. Namun, kenaikan suku bunga di pasar sejak Juni 2026 menyebabkan biaya dana kembali mengalami tekanan.
“Cost of fund turun nyaris ke 4,02 persen. Tetapi begitu Juni, naik lagi suku bunga di pasar, tidak bisa kami di bawah 4 persen. Sebetulnya kalau kemarin tidak ada likuiditas ketat di market, kami optimis sekali,” kata Panji.
Sementara itu, Head of Strategic & Performance Management Department Bank Mandiri Taspen Agus Syaiful Anwar menjelaskan bahwa rasio CASA perseroan selama bertahun-tahun cenderung stagnan di kisaran 20 hingga 23 persen.
“CASA kita itu dalam 11 tahun itu rasionya kurang lebih di kisaran 20 persen sampai 22-23 persen. Jadi, stagnan di angka itu. Nah, ini kita pengin dorong kalau bisa di 30-40 persen,” ujarnya.
Untuk mencapai target tersebut, Bank Mantap menawarkan produk giro dengan suku bunga yang kompetitif, memperluas kerja sama melalui ekosistem perusahaan dan instansi dengan pendekatan value chain, serta terus mengembangkan fitur pada aplikasi Movin agar mampu menjangkau nasabah di luar segmen pensiunan.
Perseroan juga tengah menjajaki kolaborasi dengan Pegadaian untuk menghadirkan layanan investasi emas serta menggandeng penyedia platform crowdfunding guna memperkaya ekosistem layanan digital.
Menurut Agus, diversifikasi tersebut diperlukan karena potensi penghimpunan dana murah dari segmen pensiunan memiliki keterbatasan.
“Karena kalau mengandalkan pensiunan, memang ceruk market atau ceruk potensi CASA-nya segitu-segitu saja karena income-nya mereka dari gaji yang relatif tidak terlalu signifikan pertumbuhannya,” katanya.
Di tengah persaingan penghimpunan dana yang semakin ketat akibat kenaikan suku bunga acuan, Agus memastikan kondisi likuiditas Bank Mantap masih berada pada level yang sehat. Perseroan mempertahankan loan to funding ratio (LFR) di kisaran 85–90 persen, lebih rendah dibandingkan sekitar 95–96 persen pada tahun sebelumnya.
Kinerja penghimpunan dana murah Bank Mantap juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan keuangan hingga akhir Mei 2026, nilai giro dan tabungan tumbuh 52,97 persen secara tahunan (year on year) menjadi Rp15,67 triliun. Dengan capaian tersebut, rasio CASA meningkat menjadi sekitar 26,32 persen.
Pada periode yang sama, dana deposito tercatat tumbuh 6,38 persen menjadi Rp43,87 triliun, sementara total dana pihak ketiga (DPK) meningkat 15,65 persen menjadi Rp59,53 triliun.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit Bank Mantap juga terus bertumbuh. Hingga akhir Mei 2026, nilai kredit mencapai Rp52,52 triliun atau naik 10,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sejalan dengan itu, total aset perseroan meningkat 14,40 persen menjadi Rp78,43 triliun, mencerminkan pertumbuhan bisnis yang tetap terjaga di tengah dinamika likuiditas perbankan.
