Jakarta, lajunetwork.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan sesi I, Jumat, seiring munculnya sentimen positif dari pidato Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian agenda kenegaraan dan penyampaian arah kebijakan pemerintah.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai pidato Presiden Prabowo menjadi salah satu faktor yang mendorong minat beli investor terhadap saham-saham di pasar modal Indonesia.
“Istement Pak Prabowo (Subianto) bisa menjadi sentiment booster yang memperkuat minat beli, kemudian direspons pasar melalui kenaikan harga saham,” kata Elandry dikutip dari ANTARA Jakarta, Jumat.
Pada penutupan perdagangan sesi I, IHSG naik 35,42 poin atau 0,56 persen ke level 6.337,19. Aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan frekuensi mencapai 1.031.000 transaksi.
Sementara itu, volume perdagangan mencapai 17,04 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp6,47 triliun.
Elandry mengatakan penyebutan sejumlah perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam pidato Presiden turut menjadi perhatian investor.
Menurut dia, minat beli yang terlihat di pasar saat ini cenderung lebih dahulu mengarah ke saham-saham perusahaan BUMN.
“Mungkin jika dikaitkan dengan pidato hari ini, minat beli memang lebih terarah ke saham-saham BUMN terlebih dahulu. Seperti yang kita tahu, BUMN dapat menjadi eksekutor pemerintah yang cepat dan taktis dalam menjalankan berbagai program maupun menyelaraskan strategi bisnis dengan kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Meski demikian, Elandry mengingatkan bahwa penguatan IHSG tidak cukup hanya ditopang sentimen positif dari pidato Presiden. Kenaikan pasar secara berkelanjutan, menurut dia, perlu didukung oleh perbaikan fundamental serta kinerja perusahaan tercatat.
“Namun harapan penguatan lebih lanjut perlu diikuti oleh perbaikan fundamental dan kinerja emiten, tanpa mengesampingkan kondisi serta sentimen global saat ini,” katanya.
Ia juga mengingatkan investor terhadap potensi aksi ambil untung atau profit taking. Penguatan yang terutama dipicu oleh sentimen, kata dia, berpotensi hanya berlangsung dalam jangka pendek.
“Adanya potensi profit taking tetap membayangi, karena penguatan yang didorong sentimen seperti ini biasanya cenderung bersifat jangka pendek,” ujar Elandry.
Elandry menilai pidato kenegaraan Presiden Prabowo merupakan salah satu agenda yang berpotensi menggerakkan pasar saham secara signifikan.
Pelaku pasar, menurut dia, akan mencermati pernyataan Presiden terkait arah kebijakan ekonomi, fiskal, investasi, hingga stimulus pemerintah.
“Pidato kenegaraan Presiden Prabowo akan menjadi salah satu market-moving event yang cukup diperhatikan pelaku pasar, terutama jika ada penegasan mengenai arah kebijakan ekonomi, fiskal, investasi, dan stimulus,” ujarnya.
Pada Jumat, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan dalam Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI Tahun 2026.
Presiden juga menyampaikan Pengantar/Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya.
Dalam penyampaian tersebut, pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator utama yang berkaitan dengan arah perekonomian nasional. Di antaranya target pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, asumsi nilai tukar rupiah, strategi pembiayaan, serta berbagai program pemerintah yang berpotensi mendorong konsumsi dan investasi.
Sebelumnya, Badan Anggaran (Banggar) DPR RI menyampaikan bahwa Program Kerja Prioritas Nasional 2027 mencakup delapan klaster utama.
Klaster tersebut meliputi kedaulatan pangan; kemandirian energi dan air; pendidikan; kesehatan; hilirisasi dan industrialisasi; infrastruktur; perumahan; ketahanan bencana; ekonomi kerakyatan dan desa; serta penurunan kemiskinan.
Berbagai program tersebut menjadi perhatian pasar karena implementasinya berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi, konsumsi, investasi, serta kinerja sejumlah sektor dan perusahaan di pasar modal.
Dengan demikian, penguatan IHSG pada sesi I perdagangan Jumat tidak hanya mencerminkan respons investor terhadap pidato Presiden, tetapi juga menunjukkan bagaimana pelaku pasar mulai memperhitungkan arah kebijakan pemerintah dan dampaknya terhadap prospek emiten.
Meski sentimen domestik memberikan dorongan positif, investor tetap perlu memperhatikan fundamental perusahaan dan perkembangan sentimen global untuk melihat apakah penguatan IHSG dapat berlanjut dalam jangka lebih panjang.
