Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan sesi I, Kamis (16/4/2026), dengan pelemahan 0,36% ke level 7.596.
Sepanjang sesi perdagangan, indeks bergerak fluktuatif dalam rentang 7.705 hingga sempat menyentuh level terendah di 7.578, sebelum akhirnya bertahan di zona negatif menjelang penutupan.
Data Bursa Efek Indonesia mencatat nilai transaksi mencapai Rp10,76 triliun dengan volume perdagangan 25,52 miliar saham dan frekuensi 1,67 juta kali transaksi.
Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 319 saham menguat, 330 saham melemah, dan 167 saham stagnan.
Pelemahan IHSG dipicu oleh tekanan pada saham berkapitalisasi besar (big caps), yang memiliki bobot signifikan terhadap pergerakan indeks.
Sejumlah emiten besar tercatat menjadi pemberat utama, di antaranya saham sektor energi dan industri yang mengalami koreksi cukup dalam.
Secara sektoral, saham energi menjadi yang paling tertekan dengan penurunan mendekati 1%, disusul sektor infrastruktur dan barang baku yang juga mengalami pelemahan.
Kondisi ini mencerminkan adanya aksi ambil untung serta sentimen negatif yang masih membayangi pasar.
Dari sisi eksternal, pasar sempat mendapat dorongan positif dari harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, belum adanya kepastian agenda resmi perundingan membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati.
Selain itu, tekanan juga datang dari dalam negeri, terutama dari pergerakan nilai tukar rupiah yang masih fluktuatif dan cenderung melemah.
Kondisi tersebut mencerminkan tingginya premi risiko yang dipasang investor terhadap aset berbasis rupiah.
Lembaga pemeringkat global S&P Global Ratings juga menilai Indonesia cukup rentan terhadap guncangan harga energi, terutama karena beban fiskal yang berpotensi meningkat.
Kenaikan harga minyak dunia dinilai dapat mendorong inflasi, memperbesar subsidi energi, serta meningkatkan biaya utang pemerintah.
Di sisi lain, tekanan tersebut juga berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan akibat meningkatnya biaya impor energi.
Secara teknikal, analis memproyeksikan pergerakan IHSG masih berada dalam fase konsolidasi.
Dengan indikator yang mulai menunjukkan kondisi jenuh beli, indeks diperkirakan bergerak dalam rentang 7.550 hingga 7.700 pada sesi perdagangan selanjutnya.
Pelaku pasar pun masih mencermati perkembangan global dan domestik sebagai penentu arah pergerakan IHSG ke depan.
Berikut selengkapnya berdasarkan data Bloomberg:
PTDian Swastatika Sentosa (DSSA) mengurangi 9,74 poin
PT Barito Renewables Energy (BREN) mengurangi 9,26 poin
PT Barito Pacific (BRPT) mengurangi 5,65 poin
PT Mora Telematika Indonesia (MORA) mengurangi 2,7 poin
PT Impack Pratama Industri (IMPC) mengurangi 2,43 poin
PT Bank Mandiri (BMRI) mengurangi 2,35 poin
PT Energi Mega Persada (ENRG) mengurangi 2,35 poin
PT Sinar Mas Multiartha (SMMA) mengurangi 2,08 poin
PT Chandra Asri Pacific (TPIA) mengurangi 2,07 poin
PT Vktr Teknologi Mobilitas (VKTR) mengurangi 1,92 poin
