Ternate, lajunetwork.id – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah Ternate, Maluku Utara, mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Baabullah. Pengelola bandara meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko keselamatan penerbangan menyusul penurunan jarak pandang dalam beberapa hari terakhir.
Kepala Pelaksana Harian Bandara Sultan Baabullah Ternate, Zainal Abidin, mengatakan jarak pandang yang sebelumnya mencapai sekitar tiga kilometer pada Minggu (11/10) menurun menjadi 1,5 kilometer pada Senin (12/10).
Kondisi tersebut berdampak pada operasional penerbangan, termasuk menyebabkan sejumlah pesawat tidak dapat mendarat di bandara tersebut.
“Keselamatan penerbangan menjadi prioritas dalam kondisi jarak pandang yang terbatas akibat kabut asap yang menyelimuti wilayah ini,” kata Zainal di Ternate, Selasa.
Ia menjelaskan, sejumlah pesawat yang seharusnya mendarat di Bandara Sultan Baabullah terpaksa dialihkan ke bandara lain. Beberapa di antaranya menuju Bandara Sam Ratulangi di Manado, Sulawesi Utara, serta bandara di wilayah Gorontalo.
Selain pengalihan pendaratan, gangguan akibat kabut asap juga menyebabkan penundaan sejumlah penerbangan dari Jakarta dan Makassar. Empat maskapai yang terdampak sejak Minggu (11/10) yakni Lion Air, Batik Air, Sriwijaya Air, dan Garuda Indonesia.
Zainal berharap kondisi kabut asap segera membaik sehingga jarak pandang kembali memenuhi kebutuhan operasional penerbangan dan layanan transportasi udara dari maupun menuju Ternate dapat berangsur normal.
Namun, berdasarkan informasi terbaru yang diterima, jarak pandang di sekitar bandara kembali menurun menjadi sekitar 1,2 kilometer. Hingga informasi tersebut disampaikan, belum ada penerbangan yang beroperasi.
Situasi ini turut berdampak pada calon penumpang. Pantauan di terminal penumpang Bandara Sultan Baabullah menunjukkan ratusan orang masih menunggu kepastian keberangkatan akibat penundaan penerbangan.
Sebagian penumpang tersebut dijadwalkan melakukan perjalanan menuju sejumlah kota tujuan, terutama Jakarta, Makassar, dan Manado.
Gangguan penerbangan ini menunjukkan dampak kabut asap karhutla terhadap konektivitas udara di wilayah Maluku Utara. Pemulihan operasional bandara masih bergantung pada membaiknya kondisi jarak pandang dengan tetap mengutamakan keselamatan penerbangan.
