Denpasar, lajunetwork.id – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mendorong Universitas Tsinghua, China, memperkuat kerja sama riset kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali.
Menurut Luhut, kolaborasi antara perguruan tinggi Indonesia dan salah satu universitas terkemuka di China tersebut diperlukan untuk mempercepat pengembangan teknologi sekaligus mendukung proses transformasi digital di Indonesia.
“Saya ingin melihat Universitas Tsinghua bergabung dalam riset AI di pulau ini dalam waktu dekat, bahkan sangat segera. Kalau memungkinkan, saya ingin ini terjadi tahun ini,” ujar Luhut dalam China Southeast Asia Forum on Higher Education and Industry Cooperation 2026 di KEK Kura Kura Bali, Denpasar, Minggu.
Luhut mengatakan Indonesia saat ini telah memiliki fasilitas penelitian AI di kawasan tersebut. Keberadaan fasilitas itu, menurut dia, perlu diperkuat melalui keterlibatan peneliti serta dukungan keahlian teknologi dari Universitas Tsinghua.
Ia menilai Tsinghua memiliki kapasitas yang kuat dalam bidang kecerdasan buatan sehingga keterlibatan universitas tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan ekosistem riset dan teknologi di Bali.
Luhut menyebut penguatan riset AI juga berkaitan dengan agenda pemerintah dalam mengembangkan teknologi pemerintahan atau government technology (GovTech).
Pemanfaatan teknologi dalam sektor pemerintahan diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan transparansi pelayanan publik sekaligus mempersempit ruang terjadinya praktik korupsi.
Menurut Luhut, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar pengembangan teknologi pemerintahan dilakukan secara optimal.
Karena itu, kerja sama riset dan pengembangan teknologi dengan China, termasuk melalui Universitas Tsinghua, dinilai dapat membantu merealisasikan agenda tersebut.
Luhut menekankan bahwa hubungan kerja sama Indonesia dan China perlu berkembang dari pola kerja sama yang selama ini lebih banyak bertumpu pada investasi industri dan transfer teknologi.
Ke depan, kedua negara diharapkan dapat membangun inovasi bersama dengan melibatkan sumber daya manusia, pengetahuan, serta ekosistem penelitian.
“Kami tidak hanya menginginkan peralatan. Kami menginginkan ilmuwan, pengetahuan dan ekosistem inovasi,” katanya.
Untuk memperkuat kolaborasi, Luhut mengusulkan pembangunan laboratorium bersama antara Universitas Tsinghua dan perguruan tinggi maupun lembaga penelitian di Indonesia.
Kerja sama tersebut, kata dia, dapat mencakup berbagai bidang, mulai dari program penelitian, pendanaan riset hingga publikasi ilmiah.
Luhut menilai KEK Kura Kura Bali memiliki posisi yang strategis untuk dikembangkan sebagai titik temu antara dunia pendidikan, penelitian, dan industri.
Kawasan tersebut dinilai berpotensi menjadi penghubung kerja sama antara Indonesia, China, dan negara-negara di Asia Tenggara.
Namun, ia mengingatkan agar kolaborasi yang dibangun tidak berhenti pada pertukaran gagasan. Kerja sama harus menghasilkan manfaat konkret, baik dalam pengembangan teknologi maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Menurut Luhut, Indonesia dan China memiliki peluang besar untuk mempertemukan perguruan tinggi, ilmuwan, pelaku usaha, industri, serta generasi muda dalam menciptakan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Melalui kerja sama tersebut, Luhut berharap Bali dapat berkembang menjadi pusat talenta, teknologi, dan penelitian yang mampu mempertemukan kalangan akademisi dengan dunia industri.
Langkah itu sekaligus diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengembangan inovasi dan teknologi di kawasan Asia Tenggara.
