Jakarta, lajunetwork.id – Ketua Parlemen Iran Mohammad-Baqer Qalibaf memperingatkan Amerika Serikat agar mematuhi setiap komitmen yang disepakati dalam potensi nota kesepahaman maupun perjanjian yang tengah dijajaki kedua negara. Peringatan itu disampaikan di tengah pembahasan diplomatik yang disebut berpotensi membuka jalan bagi berakhirnya konflik di sejumlah kawasan Timur Tengah.
Melalui unggahan di platform media sosial X pada Sabtu (13/6), Qalibaf menegaskan bahwa setiap kesepakatan yang dicapai harus dijalankan secara konsisten tanpa alasan ataupun pengecualian.
“Komitmen yang dibuat harus ditepati. Tidak ada syarat tambahan, tidak ada alasan untuk mengingkarinya,” tulis Qalibaf seperti dikutip media Iran, Press TV.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan suatu perjanjian sangat bergantung pada kesediaan kedua pihak untuk menghormati isi kesepakatan yang telah disetujui.
Pernyataan tersebut muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan adanya pembahasan mengenai sebuah nota kesepahaman yang berpotensi menjadi landasan bagi perjanjian yang lebih luas antara Teheran dan Washington.
Menurut Araghchi, dokumen yang disebut sebagai Memorandum Kesepahaman Islamabad itu dapat menjadi langkah awal menuju penyelesaian berbagai persoalan yang selama ini menjadi sumber ketegangan antara kedua negara.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, Araghchi menjelaskan bahwa memorandum tersebut dirancang untuk mengakhiri konflik yang berlangsung di berbagai front, termasuk di Lebanon.
“Berakhirnya perang akan diumumkan di semua front, termasuk Lebanon,” ujar Araghchi.
Ia menjelaskan bahwa setelah penandatanganan nota kesepahaman, kedua pihak akan memasuki tahap negosiasi lanjutan yang diperkirakan berlangsung selama 60 hari. Periode tersebut dapat diperpanjang apabila terdapat kemajuan yang dianggap memuaskan oleh kedua belah pihak.
Tahap lanjutan itu akan difokuskan pada sejumlah isu strategis, termasuk pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran, pengaturan program nuklir Teheran, serta pembahasan mekanisme keamanan regional di Timur Tengah.
Meski demikian, Araghchi mengingatkan bahwa keberhasilan proses tersebut sangat bergantung pada komitmen para pihak dalam menjalankan kesepakatan yang telah dibuat. Jika tidak tercapai kemajuan yang signifikan, menurutnya, proses negosiasi dapat berakhir tanpa menghasilkan perjanjian final.
“Apabila kemajuan yang diharapkan tidak tercapai, maka situasi akan kembali ke kondisi sebelum nota kesepahaman disepakati,” katanya.
Araghchi juga menyinggung pengalaman masa lalu yang menurutnya menunjukkan adanya ketidakpatuhan terhadap sejumlah kesepakatan yang pernah dibuat. Ia mengingatkan bahwa kegagalan menghormati komitmen dapat kembali menjadi hambatan dalam proses diplomatik saat ini.
“Mereka memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengingkari janji yang telah dibuat,” ujarnya.
Sementara itu, sehari sebelum pernyataan terbarunya, Qalibaf juga menyampaikan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait kemungkinan eskalasi konflik baru. Ia meminta Washington tidak mengambil langkah yang dapat memicu ketegangan lebih lanjut, termasuk menyerang infrastruktur energi Iran.
Qalibaf menilai setiap tindakan agresif baru berpotensi memperburuk situasi keamanan kawasan dan menghambat peluang tercapainya solusi diplomatik.
Perkembangan ini menunjukkan adanya dinamika baru dalam hubungan Iran dan Amerika Serikat yang selama bertahun-tahun diwarnai ketegangan terkait program nuklir, sanksi ekonomi, serta konflik regional. Meski peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka, kedua pihak dihadapkan pada tantangan besar untuk membangun kembali kepercayaan yang selama ini menjadi salah satu hambatan utama dalam proses diplomasi.
Pengamat menilai keberhasilan nota kesepahaman tersebut akan sangat bergantung pada kesediaan masing-masing pihak untuk menghormati komitmen yang disepakati, sekaligus menghindari langkah-langkah yang dapat memicu eskalasi baru di kawasan Timur Tengah.
