Teheran – Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah serangan terhadap fasilitas minyak di Fujairah, Uni Emirat Arab (UEA). Insiden ini dipandang sebagai pesan tegas dari Iran kepada Abu Dhabi terkait hubungan eratnya dengan Israel.
Mohammad Eslami, peneliti dari Universitas Teheran, menilai UEA telah mengambil posisi yang berseberangan dengan kepentingan Iran. “UEA telah memutuskan untuk menjadi semacam proksi Israel, dan Iran tidak akan mentolerir hal tersebut,” ujarnya.
Menurut Eslami, kondisi geopolitik saat ini membuat UEA semakin terisolasi di kawasan Teluk. Ia juga menyoroti perlunya Amerika Serikat mengevaluasi kembali pendekatan militernya di Timur Tengah. “Saat ini Emirat terlibat dalam berbagai konflik, tidak hanya dengan Iran, tetapi juga dengan Arab Saudi, Qatar, dan Oman. Di tengah kondisi ekonomi global yang sedang terpuruk, Amerika perlu memikirkan ulang strategi mereka,” tambahnya.
Meski demikian, Eslami menegaskan bahwa Iran masih mempertimbangkan jalur diplomasi. “Iran sedang memikirkan solusi diplomatik. Itu tidak berarti mereka akan menyerah, tetapi mereka mengarah pada penyelesaian politik,” katanya.
Di pihak lain, otoritas UEA melaporkan bahwa kebakaran di fasilitas minyak Fujairah telah berhasil dikendalikan. Tiga warga negara India yang mengalami luka-luka dalam insiden tersebut kini tengah menjalani perawatan di rumah sakit.
Koresponden CNBC, Natasha Turak, menyebut serangan ini sebagai langkah signifikan mengingat pentingnya lokasi Fujairah bagi perekonomian UEA. Kawasan industri tersebut menjadi titik vital karena menampung Pipa Minyak Habshan–Fujairah, yang mengalirkan sekitar 50–60 persen ekspor minyak negara itu.
“Pipa ini sangat strategis karena memungkinkan minyak UEA melewati Selat Hormuz dan langsung menuju pasar global melalui Teluk Oman. Dengan menargetkan fasilitas ini, Iran mengirimkan pesan bahwa mereka mampu menyerang titik ekonomi penting UEA,” jelas Turak.
Hingga kini, pemerintah Iran belum secara resmi mengonfirmasi maupun membantah keterlibatan mereka dalam serangan tersebut. Turak juga mencatat adanya pernyataan yang saling bertentangan dari pihak Iran terkait insiden ini.
Sementara itu, Lorenzo Kamel, profesor sejarah dari Universitas Turin, menyoroti peran kekuatan eksternal di kawasan Timur Tengah. Ia menilai kehadiran militer asing justru dapat memperpanjang konflik.
“Jika sejarah mengajarkan sesuatu, maka pengalihan keamanan kepada pihak eksternal tidak akan pernah menghasilkan perdamaian yang berkelanjutan. Kawasan ini membutuhkan perdamaian sejati, bukan sekadar stabilitas bersenjata,” ujar Kamel dalam wawancara dengan Al Jazeera.
Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan di Timur Tengah, sekaligus mempertegas rapuhnya stabilitas kawasan yang sarat kepentingan geopolitik global.
