Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah membuka kembali Selat Hormuz secara permanen, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui platform media sosial Truth Social pada Rabu (15/4/2026) waktu setempat. Trump juga menyebut bahwa langkah tersebut mendapat respons positif dari China.
Dalam pernyataannya, Trump bahkan mengklaim bahwa Beijing telah sepakat untuk menghentikan pengiriman senjata ke Iran sebagai bagian dari dampak kebijakan tersebut. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah China terkait klaim tersebut.
Trump menyatakan bahwa pembukaan Selat Hormuz dilakukan untuk kepentingan global, termasuk menjaga kelancaran arus energi dunia.
Pernyataan ini muncul di tengah kebijakan blokade laut yang diterapkan Amerika Serikat terhadap kapal-kapal yang terhubung dengan pelabuhan Iran.
Sejak awal pekan, militer AS dilaporkan memperketat pengawasan di kawasan tersebut, dengan tujuan menekan Teheran agar kembali membuka akses pelayaran di Selat Hormuz dan kembali ke meja perundingan.
Situasi ini terjadi setelah Iran sebelumnya mengurangi aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut, menyusul eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari lalu.
Meski Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz telah dibuka, seorang pejabat senior pemerintah AS menyebut blokade terhadap pelabuhan Iran masih tetap diberlakukan dan dinilai efektif.
Menurut pejabat tersebut, tidak ada kapal yang berhasil menembus blokade, yang hanya menyasar aktivitas pelayaran dari dan menuju pelabuhan Iran.
Pemerintah AS menegaskan bahwa tujuan utama kebijakan ini adalah memastikan jalur perdagangan energi tetap terbuka bagi dunia, sekaligus memberikan tekanan diplomatik terhadap Iran.
Namun demikian, pernyataan Trump memunculkan berbagai pertanyaan, terutama terkait definisi “pembukaan” Selat Hormuz yang dimaksud, serta apakah kebijakan tersebut berlaku untuk semua negara atau hanya pihak tertentu.
Gedung Putih hingga kini belum memberikan penjelasan rinci mengenai hal tersebut.
Di sisi lain, Trump juga menyebut akan melakukan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping dalam waktu dekat, sebagai bagian dari kunjungan kenegaraan ke Beijing.
Pernyataan tersebut semakin menambah spekulasi terkait dinamika hubungan antara Amerika Serikat, China, dan Iran di tengah situasi global yang masih bergejolak.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak China terkait klaim yang disampaikan oleh Trump.
Perkembangan di Selat Hormuz tetap menjadi perhatian dunia, mengingat kawasan ini merupakan salah satu jalur utama distribusi energi global yang sangat strategis.
