Keputusan moneter sering dibaca publik sebagai “pro-pertumbuhan” atau “pro-stabilitas”. Padahal, pada praktiknya bank sentral berusaha menyeimbangkan keduanya. Pada RDG 20–21 Januari 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate 4,75%, dengan penekanan bahwa fokus kebijakan saat ini adalah stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Mengapa rupiah jadi pertimbangan utama?
Rupiah bukan sekadar simbol. Nilai tukar mempengaruhi:
- harga barang impor (bahan baku, mesin, pangan tertentu),
- biaya utang (korporasi/pemerintah yang berhubungan dengan valas),
- kepercayaan investor terhadap aset rupiah.
Data harian menunjukkan rupiah JISDOR pada 27 Januari 2026 berada di Rp16.801/US$. Dalam konteks volatilitas global, menjaga ekspektasi rupiah sering mencegah tekanan lanjutan pada inflasi impor.
Menahan suku bunga bukan berarti anti-pertumbuhan
BI dalam rilis resminya menyatakan keputusan suku bunga konsisten untuk mendukung sasaran inflasi 2026–2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi, sambil menjaga stabilitas rupiah. Reuters juga mencatat kebijakan BI mempertahankan suku bunga di tengah kebutuhan menstabilkan rupiah.
Artinya: ketika tekanan kurs menguat, ruang pelonggaran suku bunga biasanya menyempit. Jika suku bunga diturunkan saat rupiah rentan, arus modal bisa makin sensitif, dan pelemahan kurs justru menambah tekanan harga melalui jalur impor.
Di mana posisi inflasi dalam debat ini?
BPS mencatat inflasi Desember 2025 2,92% (yoy). Inflasi yang relatif terkendali memang memberi ruang kebijakan, tetapi ruang itu tetap “dibatasi” oleh faktor kurs dan kondisi eksternal. Karena itulah, argumen “inflasi rendah berarti pasti bisa turunkan suku bunga” sering tidak lengkap jika tidak memasukkan stabilitas nilai tukar.
Kesimpulan opini berbasis data
Dalam fase ketidakpastian global, stabilitas rupiah adalah prasyarat agar dorongan pertumbuhan tidak berubah menjadi tekanan harga dan biaya impor yang lebih tinggi. Menahan suku bunga bisa menjadi strategi “menjaga fondasi” sebelum menambah akselerasi.
Opini ini tidak menutup kemungkinan pelonggaran di masa depan—tetapi menggarisbawahi urutannya: ketika fondasi stabil, dorongan pertumbuhan menjadi lebih efektif dan lebih murah risikonya.
