Pembaca news butuh data yang cepat, ringkas, dan bisa dijadikan konteks saat membaca berita lain. Berikut dashboard angka yang bisa dipakai redaksi dan pembaca lajunetwork.id.
1) Inflasi (Desember 2025)
- Inflasi yoy: 2,92%
- Inflasi m-to-m: 0,64%
Sumber resmi BPS, rilis 5 Januari 2026.
Insight: Inflasi yoy yang moderat membantu stabilitas daya beli, tetapi komponen pangan dan distribusi tetap krusial karena cepat terasa di rumah tangga.
2) Suku bunga acuan (BI-Rate)
- BI-Rate: 4,75%
Keputusan RDG Bank Indonesia 20–21 Januari 2026.
Insight: BI menekankan stabilisasi rupiah dalam ketidakpastian global sambil tetap menjaga target inflasi.
3) Kurs rupiah (JISDOR)
- JISDOR 27 Januari 2026: Rp16.801/US$
Insight: JISDOR penting sebagai kurs referensi; pelemahan rupiah berpotensi menekan biaya impor bahan baku dan mempengaruhi inflasi impor.
4) Pasar saham (IHSG)
- IHSG penutupan 27 Januari 2026: 8.980,23
Insight: Kenaikan tipis sering menandakan pasar menunggu kepastian data/kebijakan. Cocok dibaca bersama pergerakan rupiah dan suku bunga.
5) Harga minyak (Brent)
- Reuters mencatat Brent sekitar US$65,53/barel pada 27 Januari 2026.
Insight: Minyak mempengaruhi biaya logistik dan berpotensi menular ke inflasi melalui ongkos distribusi.
6) Outlook perdagangan global
- WTO: proyeksi volume perdagangan barang dunia 2025: 2,4%, 2026: 0,5%.
Insight: Outlook 2026 yang melemah berarti ketidakpastian permintaan global meningkat—relevan untuk ekspor, industri, dan arus modal.
Cara pakai dashboard ini (untuk pembaca)
Jika membaca berita “rupiah melemah” atau “IHSG menguat”, gunakan 6 angka ini untuk menjawab cepat:
- Apakah inflasi sedang naik atau stabil?
- Apakah suku bunga domestik memberi ruang atau menahan?
- Apakah tekanan datang dari global (minyak, trade outlook) atau domestik?
