Bekasi, lajunetwork.id – Anggota MPR RI Iyeth Bustami menilai guru memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila sekaligus membentuk karakter generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Menurut Iyeth, tenaga pendidik berada di garis depan dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul akibat penggunaan media sosial, termasuk potensi pengaruh negatif terhadap moral dan mental anak-anak.
“Bapak dan ibu guru adalah pihak yang paling tepat hadir di sini, karena bapak dan ibulah penyambung lidah yang berhadapan langsung dengan generasi penerus kita setiap hari. Mari bersama-sama kita jaga masa depan generasi muda dan rawat keutuhan bangsa dengan nilai-nilai Empat Pilar,” kata Iyeth dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Minggu.
Pernyataan tersebut disampaikan Iyeth dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar Kelompok I Badan Sosialisasi MPR RI bersama Komunitas Biru Nusantara (Kobinus) di Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (12/9).
Legislator dari daerah pemilihan Riau I itu mengatakan pemahaman terhadap Empat Pilar MPR RI tidak semestinya berhenti pada kegiatan menghafal. Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, menurut dia, harus menjadi pedoman dalam membangun sikap dan perilaku sehari-hari.
Ia menilai perkembangan teknologi dan media sosial telah membawa tantangan baru bagi pembentukan karakter generasi muda. Kemudahan berkomunikasi di ruang digital, kata dia, tidak selalu diikuti dengan kesadaran untuk menjaga etika dan menghormati orang lain.
“Negara kita semakin maju dan teknologi kian canggih, namun yang paling saya khawatirkan adalah dampak buruk media sosial terhadap anak-anak kita yang secara mental masih labil,” ujarnya.
Di hadapan sekitar 300 peserta yang sebagian besar merupakan perempuan dan tenaga pendidik dari berbagai latar belakang, Iyeth turut menceritakan pengalamannya menghadapi ujaran kebencian di media sosial.
Ia mengatakan pengalaman tersebut menunjukkan masih lemahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam menjaga kesantunan ketika berinteraksi di ruang digital. Menurutnya, seseorang cenderung lebih mudah melontarkan kata-kata kasar melalui gawai karena tidak berhadapan secara langsung dengan orang yang menjadi sasaran.
Iyeth pun meminta para guru mengajarkan kepada siswa agar mempertimbangkan dampak setiap komentar sebelum mengunggahnya ke media sosial.
“Begitu mudahnya sumpah serapah terlontar di media sosial. Saya titip kepada bapak dan ibu guru, tolong ingatkan anak didik kita bahwa saat hendak mengetik komentar di media sosial, bayangkan orang itu berada langsung di depan muka kita,” katanya.
Ia menambahkan, etika yang biasa dijaga ketika berkomunikasi secara langsung juga seharusnya diterapkan dalam interaksi digital.
“Apakah kita berani bicara sekasar itu? Di depan orang kita selalu menjaga tata krama, tetapi di gawai banyak yang merasa kebal,” sambungnya.
Selain persoalan etika bermedia sosial, Iyeth menyoroti perubahan perilaku dan budaya yang berkembang di kalangan remaja. Ia menyebut istilah Strawberry Generation untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap ketahanan mental sebagian generasi muda yang dinilai menghadapi berbagai tekanan di era digital.
Ia juga menyinggung perubahan bahasa pergaulan, gaya berpakaian, serta kecenderungan menurunnya sensitivitas terhadap norma dan tata krama yang selama ini berkembang dalam masyarakat.
Menurut Iyeth, teknologi digital pada dasarnya memiliki manfaat besar, khususnya dalam memperluas akses terhadap pengetahuan. Namun, manfaat tersebut perlu diimbangi dengan pendampingan agar anak-anak mampu memilah informasi dan konten yang mereka konsumsi.
“Gawai memang ada manfaatnya untuk ilmu pengetahuan, tetapi mudaratnya juga luar biasa jika diserap tanpa saringan. Di sinilah peran vital bapak dan ibu guru serta orang tua untuk membimbing dan membentengi mereka dengan nilai-nilai agama serta budi pekerti luhur,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri anggota Badan Sosialisasi MPR RI lainnya, Junaidi Auly dan Nurwayah.
