Tangerang, lajunetwork.id – Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai industri aplikasi memiliki peran strategis dalam perkembangan ekonomi digital Indonesia. Hal itu seiring dengan semakin luasnya penggunaan aplikasi dalam berbagai aktivitas masyarakat.
Menurut Teuku Riefky, aplikasi saat ini telah digunakan untuk menunjang pekerjaan, pendidikan, transaksi, hiburan hingga pengembangan usaha. Perkembangan tersebut membuat industri aplikasi tidak lagi sebatas persoalan teknologi, melainkan menjadi salah satu bagian penting dari masa depan perekonomian digital nasional.
“Karena itu, ketika kita berbicara mengenai industri aplikasi, sesungguhnya kita sedang berbicara mengenai masa depan ekonomi digital Indonesia,” ujar Teuku Riefky dalam sambutannya pada Indonesia Application Summit (InApps) 2026 di Tangerang, Banten, Senin (14/9/2026).
Ia mengatakan kemajuan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang baru bagi pengembangan industri aplikasi di Tanah Air. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut perlu dibarengi dengan penerapan etika dan tata kelola yang baik.
Teuku Riefky menjelaskan pemerintah menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru. Arah kebijakan tersebut dituangkan dalam Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026–2045.
Pelaksanaan Rindekraf melibatkan sekitar 24 kementerian dan lembaga. Kebijakan tersebut ditujukan untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif secara nasional sekaligus mendukung pengembangan sektor tersebut di daerah.
Dalam Rindekraf, pemerintah menetapkan 21 subsektor ekonomi kreatif yang mencakup bidang kebudayaan, desain, teknologi digital dan media. Dari jumlah tersebut, tujuh subsektor ditetapkan sebagai prioritas, termasuk subsektor aplikasi.
Jumlah subsektor ekonomi kreatif tersebut bertambah dari sebelumnya 17 menjadi 21. Beberapa bidang baru berkaitan langsung dengan perkembangan teknologi digital, seperti teknologi baru, konten digital dan pengisi suara.
Menurut Teuku Riefky, subsektor teknologi baru mencakup berbagai aktivitas ekonomi kreatif yang memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan, blockchain, internet of things (IoT), Web3, big data hingga keamanan siber.
Pemerintah, kata dia, juga telah menyiapkan direktorat khusus untuk menangani subsektor teknologi baru dan konten digital.
Perkembangan ekonomi kreatif juga tercermin dari nilai investasi yang terus mengalir ke sektor tersebut. Teuku Riefky menyebut investasi ekonomi kreatif pada 2025 mencapai sekitar Rp180 triliun.
Dari jumlah tersebut, subsektor aplikasi menjadi salah satu penyumbang investasi terbesar dengan nilai sekitar Rp54,23 triliun.
Sementara itu, kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat ini berada di kisaran 7,38 persen.
Teuku Riefky juga menyoroti besarnya peran generasi muda dan perempuan dalam industri kreatif. Data yang dipaparkannya menunjukkan sekitar 63 persen tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif berasal dari generasi Z dan milenial. Sebanyak 58 persen tenaga kerja sektor tersebut merupakan perempuan.
“Jadi sektor ini sangat inklusif dan berkelanjutan. Berkelanjutan karena generasi mudanya banyak terlibat, inklusif karena perempuan di sektor ekonomi kreatif juga cukup mendominasi,” katanya.
Teuku Riefky optimistis subsektor aplikasi dapat terus memperkuat kontribusi ekonomi kreatif terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menilai aplikasi memiliki posisi penting karena menjadi titik temu berbagai aktivitas dalam ekosistem digital. Pertumbuhan sebuah aplikasi tidak hanya berdampak pada perusahaan pengembang, tetapi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja, menarik investasi dan meningkatkan daya saing Indonesia.
“Ketika sebuah aplikasi berkembang, yang tumbuh bukan hanya perusahaan, tetapi juga lapangan kerja, investasi, dan daya saing bangsa,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah menghadapi tantangan berupa kebutuhan talenta digital yang semakin besar. Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena perkembangan teknologi berlangsung dengan cepat.
Untuk mengatasinya, pemerintah mendorong penguatan kolaborasi antara talenta digital, pelaku industri, investor serta pemerintah, baik di dalam negeri maupun dengan mitra internasional.
Teuku Riefky berharap karya dan inovasi digital buatan Indonesia tidak hanya berkembang di pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing di tingkat global.
“Kita ingin mempertemukan agar hasil karya anak bangsa bisa berkolaborasi dengan teman-teman dari negara-negara sahabat, investor-investor internasional, dan juga bisa masuk ke pasar global,” katanya.
Ia menegaskan Indonesia perlu mengembangkan kapasitas industri digital agar tidak hanya menjadi konsumen produk teknologi dari negara lain. Aplikasi dan inovasi karya anak bangsa harus memiliki kemampuan untuk tumbuh, bersaing dan memperluas pasar hingga ke tingkat internasional.
Dalam konteks tersebut, Indonesia Application Summit 2026 dinilai menjadi salah satu wadah untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem industri aplikasi.
Teuku Riefky berharap forum tersebut tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi menghasilkan kemitraan dan kolaborasi yang konkret antara talenta digital, pelaku usaha, investor dan pemerintah.
“Pada akhirnya, keberhasilan kita akan diukur dari semakin banyaknya aplikasi Indonesia yang mampu berkembang, bersaing, dan menunjukkan kiprahnya di tingkat global,” kata Teuku Riefky.
