Pada 27 Januari 2026, Reuters melaporkan minyak Brent berada sekitar US$65,53 per barel (turun tipis), dengan faktor cuaca ekstrem di AS dan dinamika pasokan global ikut mempengaruhi.
Di sisi lain, WTO memperbarui proyeksi perdagangan: volume perdagangan barang dunia diperkirakan tumbuh 2,4% pada 2025, tetapi outlook 2026 menurun menjadi 0,5%.
Kenapa harga minyak penting untuk Indonesia?
Harga minyak mempengaruhi:
- biaya logistik,
- biaya produksi industri,
- dan beban subsidi/kompensasi energi (tergantung skema kebijakan).
Ketika minyak naik, tekanan inflasi bisa meningkat, terutama lewat transportasi dan biaya distribusi pangan. Ketika minyak turun, ada ruang napas bagi biaya produksi, tetapi tetap tergantung nilai tukar dan kebijakan domestik.
Perdagangan global melambat: efeknya bukan cuma ekspor
Outlook WTO yang melemah untuk 2026 berarti permintaan global bisa melambat atau lebih tidak pasti. Dampaknya:
- ekspor komoditas bisa volatil,
- industri berbasis ekspor lebih sensitif,
- arus modal global cenderung lebih selektif.
IMF juga memproyeksikan pertumbuhan global melambat: dari 3,2% (2025) ke 3,1% (2026). Dalam situasi seperti ini, negara berkembang biasanya menghadapi kombinasi tantangan: volatilitas kurs, perubahan selera risiko investor, dan ketidakpastian harga komoditas.
Jalur penularan ke Indonesia: 3 kanal cepat
1) Rupiah dan arus modal.
Ketidakpastian global meningkatkan permintaan aset “aman” dan bisa menekan mata uang emerging market.
2) Inflasi impor.
Saat rupiah melemah, harga barang impor naik, mempengaruhi biaya input industri dan harga akhir.
3) APBN dan ruang fiskal.
Minyak dan kondisi global mempengaruhi penerimaan (pajak/royalti tertentu) dan kebutuhan belanja (subsidi, mitigasi risiko).
Apa yang perlu dipantau pembaca lajunetwork.id?
- pergerakan minyak (Brent/WTI) dan faktor pemicunya,
- pembaruan outlook perdagangan global,
- sinyal kebijakan suku bunga global,
- dan respons kebijakan domestik (moneter–fiskal).
