Jakarta, lajunetwork.id – AirNav Indonesia dan Airbus menjalin kerja sama untuk mengidentifikasi peluang peningkatan efisiensi manajemen lalu lintas penerbangan atau Air Traffic Management (ATM) di Indonesia. Upaya tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan ruang udara, mengurangi emisi karbon, dan mendukung keberlanjutan operasional penerbangan nasional.
Kerja sama itu dituangkan dalam nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) mengenai keberlanjutan dan efisiensi penggunaan ruang udara Indonesia.
MoU ditandatangani Direktur Utama AirNav Indonesia Avirianto Suratno dan President Airbus International Wouter van Wersch di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa. Penandatanganan tersebut disaksikan Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy.
Avirianto mengatakan optimalisasi penerbangan nasional sangat berkaitan dengan kemampuan mengelola ruang udara secara aman, lancar, dan efisien, terutama di tengah pertumbuhan lalu lintas penerbangan.
“Bagi AirNav Indonesia, optimalisasi penerbangan nasional tidak terlepas dari bagaimana ruang udara dikelola secara aman, lancar, efisien dan mampu merespons pertumbuhan lalu lintas udara,” kata Avirianto di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, kolaborasi dengan Airbus menjadi bagian dari langkah AirNav untuk mencari solusi yang dapat meningkatkan efisiensi operasional penerbangan dengan tetap menyesuaikan karakteristik ruang udara Indonesia.
Kerja sama tersebut juga merupakan kelanjutan dari pembahasan antara AirNav dan Airbus terkait peluang peningkatan efisiensi serta keberlanjutan penerbangan. Hal itu dinilai semakin relevan seiring meningkatnya lalu lintas udara dan kebutuhan untuk memaksimalkan penggunaan ruang udara bagi pengguna jasa penerbangan.
Salah satu agenda utama dalam kolaborasi tersebut adalah mengidentifikasi area dalam praktik ATM yang memiliki peluang paling besar untuk ditingkatkan. Perhatian khusus diberikan terhadap aspek operasional yang berpotensi memberikan kontribusi terhadap emisi karbon dioksida (CO₂).
Setelah area prioritas ditentukan, AirNav dan Airbus akan memetakan sejumlah solusi operasional maupun teknologi yang telah terbukti mampu meningkatkan kinerja sistem manajemen lalu lintas penerbangan sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.
Pengalaman dari program modernisasi ATM internasional, termasuk SESAR (Single European Sky ATM Research) dan ASBU (ICAO Aviation System Block Upgrades), akan menjadi salah satu referensi dalam proses kajian.
Namun, Avirianto menegaskan bahwa solusi yang telah diterapkan di negara lain tidak akan langsung diadopsi untuk diterapkan di Indonesia.
“Kami tidak serta-merta membawa solusi global untuk diterapkan di Indonesia. Setiap solusi perlu dikaji dari sisi teknis dan operasional untuk melihat kesesuaiannya dengan kebutuhan kita,” ujarnya.
Kajian tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi yang dapat diterapkan sesuai kondisi ruang udara Indonesia. Rekomendasi itu nantinya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi penerbangan sekaligus memperkuat aspek keberlanjutan.
Selain pengelolaan lalu lintas udara, ruang lingkup MoU juga mencakup peluang kerja sama dalam operasi darat dan operasi penerbangan. Kedua pihak akan mengeksplorasi berbagai pendekatan yang dapat membantu meningkatkan efisiensi operasional armada.
Untuk memastikan pembahasan berjalan terarah, AirNav Indonesia dan Airbus akan membentuk Steering Committee yang bertugas mengawasi dan mengarahkan perkembangan kerja sama.
Masing-masing pihak juga akan menunjuk focal point dan Lead Expert untuk menangani pembahasan teknis, termasuk mengoordinasikan kebutuhan data, informasi, serta masukan dari tim ahli masing-masing.
AirNav Indonesia akan mengoordinasikan pandangan para pemangku kepentingan terkait di dalam negeri dalam pembahasan tersebut. Pelibatan pihak lain akan dilakukan berdasarkan persetujuan Steering Committee serta mengikuti ketentuan kerahasiaan yang berlaku.
Kerja sama juga membuka ruang pertukaran pengetahuan, praktik terbaik, dan keahlian teknis. Pemanfaatan pengalaman dan kompetensi tim ahli kedua pihak diharapkan dapat turut mendukung pengembangan sumber daya manusia di sektor penerbangan.
Hasil pembahasan selanjutnya diarahkan untuk dituangkan dalam closing memorandum. Dokumen tersebut akan memuat ruang lingkup kerja sama, hasil kajian, rekomendasi solusi, peta jalan adaptasi, serta kemungkinan pelaksanaan program melalui perjanjian tersendiri.
Melalui kolaborasi tersebut, AirNav Indonesia dan Airbus menargetkan adanya rekomendasi yang dapat membantu meningkatkan efisiensi manajemen lalu lintas penerbangan sekaligus menjaga aspek keselamatan, kelancaran, dan keberlanjutan operasional di tengah pertumbuhan lalu lintas udara Indonesia.
