Banda Aceh, lajunetwork.id – Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala (ARC USK) Banda Aceh menilai penerapan Sistem Resi Gudang (SRG) untuk komoditas minyak nilam dapat menjadi terobosan dalam memperbaiki tata niaga industri nilam nasional.
Ketua ARC USK Banda Aceh Syaifullah Muhammad mengatakan SRG berpotensi membantu menjaga ketersediaan pasokan minyak nilam sekaligus memberikan kepastian yang lebih baik bagi petani dan penyuling.
“SRG menjadi inovasi tata niaga yang krusial bagi industri nilam nasional,” ujar Syaifullah saat dikonfirmasi dari Banda Aceh, Kamis.
Pernyataan tersebut disampaikannya setelah memaparkan hasil kajian kelayakan minyak nilam sebagai komoditas SRG dalam forum Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Analisis Kelayakan Minyak Nilam sebagai Komoditas dalam Sistem Resi Gudang” di Jakarta.
Syaifullah menjelaskan kajian yang dilakukan ARC USK mencakup berbagai aspek untuk mengetahui kesiapan ekosistem SRG minyak nilam secara menyeluruh.
Sejumlah aspek yang dikaji antara lain karakteristik dan standar mutu komoditas, nilai ekonomi, kesiapan regulasi, kelayakan fasilitas gudang, ketersediaan lembaga penilai kualitas, dukungan sektor perbankan, kontribusi lembaga riset dan inovasi, hingga kesiapan pengelola gudang.
Menurut dia, penerapan SRG nantinya dapat mendukung pengelolaan stok minyak nilam, termasuk jenis light patchouli dan dark patchouli, agar tetap sesuai dengan tuntutan pasar internasional.
Selain menjaga pasokan, sistem tersebut dinilai dapat mempercepat pembayaran hasil produksi kepada petani dan penyuling.
“Langkah ini sekaligus untuk memastikan petani dan penyuling mendapatkan pembayaran hasil produksi secara cepat,” katanya.
Syaifullah mengatakan kajian tersebut tidak diarahkan untuk menjadikan SRG sekadar fasilitas penyimpanan komoditas. Sistem tersebut diharapkan memiliki fungsi yang lebih luas dalam memperkuat rantai pasok minyak nilam.
“SRG juga menjadi instrumen standardisasi mutu, traceability, pembiayaan, tunda jual, konsolidasi pasokan dan penguatan akses pasar minyak nilam Indonesia,” ujarnya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 14 Tahun 2026 tentang Barang dan Persyaratan Barang yang Dapat Disimpan dalam Sistem Resi Gudang, saat ini terdapat 30 jenis komoditas yang dapat masuk dalam skema SRG.
Minyak nilam belum termasuk dalam daftar tersebut.
Karena itu, hasil kajian ARC USK diharapkan dapat menjadi dasar untuk memenuhi berbagai persyaratan teknis sekaligus mendorong penyusunan regulasi yang diperlukan sebelum minyak nilam dapat diterapkan dalam sistem tersebut.
Project Manager Promise II Impact International Labour Organization (ILO) Djauhari Sitorus berharap hasil kajian tersebut segera ditindaklanjuti dengan implementasi di lapangan.
“Kami berharap nilam bisa segera ditetapkan sebagai komoditas ke-31 pada SRG. Sehingga implementasi sistem ini bisa segera diterapkan di masyarakat,” kata Djauhari.
Jika minyak nilam nantinya masuk dalam daftar komoditas SRG, sistem tersebut diharapkan dapat memperkuat pengelolaan stok, menjaga standar mutu, serta memperluas akses pembiayaan dan pasar bagi pelaku industri nilam nasional.
